Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Tuesday, March 23, 2010

Tips> Installment on KPR

Short tips for today
======

When you take KPR/KPA, you need to remember:
1. Do not take KPR installment more than your 33% income each month
2. Take longer installment

Before you take KPR, you need to take these steps:
- Pay all your debts
- Control your monthly expenditures
- Do not take more than 1 credit cards
- Limit your credit card
- Do not take other debts
- The most important thing is save more into your bank account, do not put cash money at home.
- Try to look for other source of income

=

Thursday, February 25, 2010

Saat Memilih Rumah, Jangan Abaikan Faktor Lokasi (2)

Pertimbangan Pemilihan Lokasi
Agar Anda tidak bingung dalam menentukan lokasi rumah yang cocok dan pas untuk Anda, berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat digunakan.

1. Nilai rumah

Fungsi rumah yang tercermin dari lokasi akan berefek pada harga jual. Semakin banyak fungsi rumah maka harganya semakin tinggi. Pertimbangan di sini adalah apakah harganya sudah mencerminkan nilai dan manfaat yang akan Anda peroleh. Alangkah sayangnya kalau Anda membeli rumah di lokasi dengan berbagai fasilitas tetapi Anda menghabiskan seluruh waktu di tempat kerja. Atau rumah yang Anda beli mahal, hanya ditempati sekali sebulan atau pada akhir pekan saja.

2. Fasilitas pendidikan (sekolah)
Mempunyai anak atau tidak, Anda perlu peduli tentang masalah ini. Pasalnya, umumnya orang tua akan peduli masalah ini dan mereka memberi penghargaan pada kualitas sekolahan. Fasilitas sekolah harus dekat dengan tempat tinggal Anda. Jangan sampai putera-puteri Anda capai di jalan sehingga tidak bisa berkonsentrasi belajar.

Selain itu, penghargaan atas mutu sekolah akan mempunyai dampak langsung pada nilai properti di sekitar sekolahan tersebut. Maka tidak heran kalau banyak pengembang membangun sendiri fasilitas pendidikan, atau bekerjasama dengan pengelola sekolahan swasta. Para pengembang menilai bahwa sebuah sekolahan di sebuah kawasan atau kompleks perumahan dapat menarik minat pembeli.

3. Feng Shui rumah
Dalam membeli rumah, tidak ada kata terlalu hati-hati. Sedapat mungkin hindari atau kurangi risiko salah pilih. Salah satu caranya adalah dengan mempertimbangkan hal yang bersifat tradisional dan kurang konvensional, seperti Feng Shui. Anda boleh tidak percaya pada Feng Shui, tetapi sebagai pembeli Anda perlu peduli. Pasalnya, mereka yang percaya pada Feng Shui akan menentukan jumlah permintaan dan penawaran. Bila rumah Anda memenuhi kaidah Feng Shui, maka tidak heran bila ketika menjual kembali pasti sudah banyak orang yang menaksir rumah Anda.

4. Aspek perpajakan
Transaksi tanah atau bangunan merupakan obyek pajak. Selanjutnya sebagai pemilik tanah dan bangunan Anda akan dikenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Oleh karena itu pertimbangkan aspek perpajakan untuk mengetahui berapa besar pengeluaraan tambahan Anda baik pada saat membeli maupun untuk membayar pajak setiap tahunnya (PBB).


5. Perkembangan masa depan
Sebelum membeli, ada baiknya Anda mengetahui pola perkembangan baru atau renovasi besar yang akan atau sedang dilakukan di wilayah lokasi rumah tersebut. Hal ini untuk memprediksi pembangunan apa yang akan dilakukan di sekitar lingkungan lokasi rumah Anda. Untuk itu Anda dapat mengecek ke Dinas Tata Ruang Kota atau pejabat lain yang berwenang.


6. Resiko bencana


Apakah lingkungan lokasi rumah yang akan dibeli mudah terserang bencana banjir, kebakaran, atau tanah longsor? Jika rumah Anda masuk ke dalam lokasi yang rawan akan bencana, lebih baik Anda mengurungkan niat Anda untuk membeli rumah itu. Memang Anda dapat mengasuraikan rumah Anda untuk melindungi secara finansial dari bencana ini. Namun, Anda juga harus mempertimbangkan bagaimana mengatasi bencana secara emosional. Asuransi hanya meringankan penderitaan finansial dari kehilangan rumah, tetapi bagaimana meringankan perasaan Anda?

7. Tingkat hunian

Bila Anda membeli rumah yang lokasinya di dalam perumahan, perhatikan apakah semua rumah sudah terisi semua atau belum. Bila rumah-rumah di lokasi itu banyak yang kosong, harap Anda waspada. Bisa jadi kekosongan rumah terjadi karena lingkungannya kurang bagus atau karena ada potensi resiko tertentu. Maka, setidaknya pilihlah lokasi yang tingkat huniannya diatas 50%.

Saat Memilih Rumah, Jangan Abaikan Faktor Lokasi (1)

This Time is about location..location..and location. The articles are quite good and I get them from tabloidrumah.com, one of the most iinspirational dan recommended magazines to read before deciding on buying/ renting/ investing houses/ apartments.

==================

Source: tabloidrumah.com

Membeli rumah memang selalu harus dengan beberapa pertimbangan. Salah satu yang cukup penting adalah pertimbangan lokasi.

Setiap orang tentunya menginginkan rumah sebagai tempat tinggal untuk menetap hingga usia tua. Agar rumah dapat digunakan terus menerus dan dapat memberikan kenyamanan, maka dalam mencari rumah harus benar-benar teliti dan seksama.

Teliti dalam mencari rumah tidak berarti hanya memperhatikan segi fisik rumah seperti menentukan spesifikasinya. Namun, teliti juga berarti mempertimbangkan segi non fisik, misalnya saja menyesuaikan anggaran dengan rumah yang diinginkan.


Setelah merencanakan serta menyediakan anggaran dan menentukan tipe rumah, tahap berikutnya adalah menentukan lokasi rumah. Ini merupakan tahap penting yang termasuk dalam pertimbangan non fisik ketika akan membeli rumah. Lokasi yang tepat mampu memberikan kenyamanan selama Anda menghuni rumah dan mempermudah Anda ketika akan menjual rumah tersebut nantinya.


Dekat Tol Lebih Bernilai
Oleh pengembang, biasanya pertimbangan lokasi rumah digunakan sebagai “senjata” untuk memasarkan sebuah rumah. Hal ini dapat dilihat pada brosur penawaran yang dibagikan oleh pengembang saat menjual rumah barunya. Di setiap brosur, para pengembang pasti tidak lupa menulis kata-kata yang bernada optimis bahwa rumah yang ditawarkan dekat dengan berbagai fasilitas, seperti “Lokasi mudah dicapai. Hanya 5 menit dari gerbang tol”. Walaupun tatanan kalimatnya tidak sama, hampir semua pengembang menulis kalimat yang intinya menawarkan rumah dengan iming-iming lokasi yang mudah dijangkau.




Lokasi rumah, khususnya perumahan baru, biasanya terletak jauh dari pusat kota. Sebagai contoh, rumah-rumah baru di sekitar Jabodetabek, umumnya berada jauh dari sentral kota seperti Jakarta. Akan tetapi jarak yang jauh ini dipermudah dengan akses penghubung yang cepat dan praktis seperti jalan tol, sehingga dapat memudahkan warganya untuk menuju lokasi tersebut. Karena itu perumahan yang lokasinya berada dekat dengan jalan tol memiliki daya tarik lebih besar bagi konsumen, karena berarti perumahan tersebut lebih mudah dijangkau.(Jaka Eko Cahyono-wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)


Jangan Jauh dari Tempat Kerja
Lokasi rumah memiliki nilai tersendiri bagi konsumen, baik untuk dihuni sendiri, disewakan, atau untuk investasi. Karena itu pembeli harus mempertimbangkan lokasi dengan seksama sebelum memutuskan untuk membeli rumah. Pasalnya kemungkinan besar pembeli akan menggunakan rumah tersebut dalam jangka waktu lama. Ini berbeda dengan penyewa yang umumnya bersifat sementara dan bisa pindah sewaktu-waktu. Untuk itu, lokasi ini harus dilihat apakah mudah dicapai atau tidak.


Selain itu, lokasi rumah jangan sampai terlalu jauh dari tempat kerja Anda. Bisa dibayangkan apabila jarak rumah Anda jauh, berapa lama waktu yang Anda butuhkan setiap harinya untuk pergi-pulang dari rumah menuju tempat kerja Anda? Jarak yang jauh juga akan menambah pos pengeluaran keuangan Anda untuk konsumsi bahan bakar jika mengendari kendaraan pribadi.


Bagi penyewa rumah, lokasi berkaitan dengan fungsi sumber kenyamanan. Ini dapat menggambarkan mengapa banyak orang memilih menyewa apartemen di tengah kota, meski secara finansial ia mampu membeli rumah tetapi di pinggir kota. Bahkan banyak orang memilih menyewa rumah di kota dan menyewakan rumahnya sendiri yang ada di wilayah lain.

Jika Anda membeli rumah untuk berinvestasi, pertimbangan lokasi tidak kalah pentingnya. Pemilihan lokasi dapat menentukan hasil keuntungan yang bisa dicapai. Sebagai contoh kasus, di beberapa lokasi, kenaikan harga tanah dan rumah di suatu wilayah lebih tinggi daripada di wilayah lain. Tentu saja ada faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga selain lokasi yang menguntungkan, seperti kondisi ekonomi secara umum dan laju pertambahan penduduk.


Sejak jaman Romawi kuno, rumah juga digunakan sebagai sarana untuk investasi. Agar bisa mendapatkan lokasi yang tepat, sebaiknya Anda meluangkan waktu yang memadai untuk mencari. Berpikiranlah terbuka untuk melihat tipe-tipe rumah idaman di beberapa lokasi sebelum menyempitkan pencarian ke lokasi tertentu. Selama mencari, Anda mungkin melihat puluhan atau bahkan ratusan unit rumah di pasaran.

Gunakan hal ini sebagai peluang menemukan pilihan. Harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Namun biasanya, rumah dengan nilai yang bagus lebih cepat laku. Sedangkan rumah yang sulit terjual seringkali ditawarkan dengan harga yang terlalu tinggi.

Kondisi Sosial

Setelah lokasi ditentukan dan mengecek kondisi fisik rumah, sebaiknya Anda juga mengetahui kondisi lingkungan sosial di lokasi rumah yang Anda pilih. Jangan sampai Anda nanti membeli rumah di lokasi yang membuat Anda merasa tidak aman dan nyaman karena lingkungannya tidak “sehat”. Sebaiknya, Anda perlu mengecek secara menyeluruh lingkungan tersebut dan tidak hanya mengandalkan informasi lokasi rumah dari iklan, brosur promosi, atau agen properti.


Bagaimana caranya mengecek? Anda dapat mengunjungi kembali lingkungan rumah yang Anda incar pada hari yang berbeda dan waktu yang berbeda. Jika saat ini mengunjungi pada siang hari, besoknya Anda mengunjungi lagi pada malam hari. Ketuk pintu beberapa calon tetangga dan tanyai mereka tentang kondisi lingkungan sosial sekitarnya. Bila Anda akan menyewa, ada baiknya berbicaralah kepada pihak penyewa. Karena tidak mempunyai kepentingan jangka panjang di wilayah itu, penyewa akan memberi informasi secara lebih terbuka.

Meskipun Anda sudah mengetahui kondisi lingkungan dan memutuskan untuk membeli rumah di wilayah tersebut, yakinkan juga Anda melihat pilihan rumah yang lain di wilayah tersebut. Jika Anda mengalokasikan Rp 200 juta untuk sebuah rumah, lihat rumah yang ditawarkan lebih mahal yang ada di sekitarnya. Siapa tahu Anda hanya perlu mengeluarkan sedikit lebih banyak untuk mendapatkan fasilitas yang jauh lebih tinggi nilainya.

Thursday, December 24, 2009

Membangun Rumah di Kota Hijau

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO
Kamis, 22/10/2009 | 17:01 WIB

KOMPAS.com
- Fakta pemanasan global yang memengaruhi perubahan iklim dan degradasi kualitas lingkungan hidup manusia telah menyadarkan betapa pentingnya menyelamatkan kehidupan manusia di Bumi. Berbagai pihak terus bekerja sama membangun dunia baru yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Para pengembang properti berbagi informasi membangun properti hijau menuju kota hijau. Produk-produk properti hijau diperkenalkan kepada konsumen yang semakin kritis terhadap pengembang yang tidak ramah lingkungan. Ada banyak properti hijau berupa konsep kota taman, kota hijau, kota pohon, rumah kebun, kebun raya, taman hijau, hingga lembah hijau yang membanjiri pasaran telah memesona masyarakat.

Berbagai tren arsitektur bangunan yang sempat populer, mulai dari rumah bergaya tropis, country, mediteranian, hingga minimalis, mulai ditinggalkan konsumen. Para arsitek dan pemilik rumah mulai bekerja sama mengembangkan konsep rumah hunian yang ramah lingkungan dan semakin dicari penghuni.

Rumah ramah lingkungan (rumah hijau) mensyaratkan beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Rumah harus dibangun di atas lahan yang memang diperuntukkan bagi kawasan hunian, bukan kawasan hijau (daerah resapan air). Komposisi ruang terbangun dan ruang tidak terbangun disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di setiap kawasan. Untuk kawasan hunian, koefisien dasar bangunan (KDB) idealnya maksimal 70 persen sehingga menyediakan koefisien dasar hijau (KDH) mencapai 30 persen.

Sejak perencanaan dan pembangunan rumah, bahan bangunan yang dipakai sebaiknya menggunakan material lokal atau mudah didapat dari daerah terdekat. Kemudahan mendatangkan material setempat akan menghemat biaya transportasi dan turut membantu mengurangi gas emisi karbon kendaraan.

Material lokal akan lebih menyelaraskan karakter bangunan dengan lingkungan sekitar, seperti bangunan ekspos batu kali, batu bata, dan kayu untuk perpaduan kesan alami; atau semen, baja, dan kaca yang menampilkan wajah modern. Interior dan perabot dalam rumah dapat memakai bahan-bahan yang mudah didaur ulang atau barang hasil daur ulang.

Denah bangunan cukup mudah diikuti, mengalirkan sirkulasi cahaya dan udara alami dengan leluasa. Peletakan pintu, jendela, void, dan lubang angin yang tepat. Ruang-ruang dalam rumah (ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dapur) terasa cukup terang, tetapi tidak terlalu panas atau lembab. Udara segar mengembus ke segala penjuru ruangan, cukup dengan kipas angin, pemakaian AC hanya pada waktu tertentu.

Hemat listrik

Krisis listrik yang byarpet dan semakin mahal mendorong semua pihak untuk mulai membiasakan menggunakan energi alternatif yang ramah lingkungan. Meski belum banyak berkembang, warga terus berupaya mencari tenaga listrik yang (kalau bisa) mudah dan murah. Pilihan jatuh pada pemasangan panel- panel sel surya di atap bangunan untuk memanaskan air dan beberapa titik lampu.

Di kawasan pesisir pantai, dilakukan pengembangan kincir angin untuk memasok tenaga listrik. Biogas juga sudah dilirik untuk menerangi lampu atau memasak. Alternatif pengembangan energi listrik rumah ramah lingkungan harus terus dilakukan agar rumah tidak tergantung banyak pada pasokan listrik PLN di masa depan.

Ketersediaan KDH 30 persen lebih memberikan peluang untuk rumah dan penghuni dapat bernapas lega. Ruang hijau dikembangkan menjadi taman dengan konsep taman sesuai kebutuhan penghuni, seperti taman terapi/ refleksi/relaksasi, taman air, taman bunga, atau sesuai arsitektur bangunan—taman tropis, taman minimalis, taman jepang, dan taman mediteranian.

Taman yang cantik ini memberikan sumbangan ekologis kepada kota sebagai ruang terbuka hijau privat bagian dari ruang terbuka hijau kota. Penghuni berhak memperoleh insentif, seperti pengurangan pajak, pemotongan biaya listrik, telepon, dan kemudahan lain, dari pemerintah sebagai apresiasi pemerintah atas partisipasi warga dalam menambah hijau kota.

Para arsitek mulai rajin membangun atap hijau (green roof, roof garden) sebagai upaya menggantikan lahan (hijau) yang terbangun. Di kota-kota besar yang padat dan sumpek, kehadiran atap-atap hijau bak oase sejuk di tengah-tengah hutan beton kota. Belum cukup, dinding-dinding rumah juga dibalut tanaman merambat menjadi dinding hijau (green wall).

Bangunan yang diselimuti tanaman terbukti mampu memengaruhi iklim mikro lingkungan sekitar. Hawa panas turun. Taman menjadi insulasi atap alami. Radiasi sinar matahari diserap tanaman. Gas polutan diolah tanaman menjadi oksigen. Air hujan dapat ditampung, diserap, dan dialirkan ke dalam pipa serta diresapkan ke dalam sumur resapan air.

Pengolahan sampah

Ruang dalam rumah menjadi lebih sejuk dan nyaman (pemakaian AC dapat dikurangi). Penghuni dapat beristirahat, melihat langit biru di siang hari, menatap bintang berkilau di malam hari, atau membuat pesta taman di atas sambil menikmati pemandangan lanskap kota dari atap rumah. Suatu pengalaman yang sangat langka bagi warga kota.

Rumah ramah lingkungan menyerapkan air yang jatuh sebanyak-banyaknya ke dalam tanah (zero run off). Rumah membangun sistem saluran air bersih, air kotor, dan air limbah dibuat terpisah. Air bersih dari pompa atau PAM langsung dialirkan ke bak penampung air. Mandi sudah memakai shower. Bak-bak air mulai banyak ditiadakan karena dianggap mandi dengan gayung lebih boros air.

Air bekas pakai mandi atau mencuci sayuran didaur ulang menjadi air untuk membilas kloset, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan. Air bekas cuci pakaian atau alat makan ditampung, disaring (dinetralisasi), dan diresapkan secara alami ke dalam sumur resapan air yang dilengkapi filter alami (pasir, kerikil, ijuk, pecahan bata/genteng). Air kotor yang dialirkan ke dalam septic tank diproses tersendiri.

Pengolahan sampah juga dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya (zero waste). Sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan diolah menjadi sampah organik untuk memupuki tanaman di taman rumah. Barang bekas pakai dipilih dan dipilah menjadi barang siap pakai untuk fungsi baru yang lain atau disisihkan untuk diberikan kepada pemulung. Semua penghuni rumah diajak terlibat dalam pengelolaan sampah.

Jangan lupa, jika rumah dekat lokasi transportasi umum (bus atau kereta api), penghuni diajak membiasakan diri berjalan kaki dan atau bersepeda untuk menuju ke tempat kegiatan sehari-hari, terutama yang berjarak dekat. Lebih sehat, lebih ramah lingkungan. Jalur pejalan kaki yang lebar, nyaman, dan teduh di permukiman dan kota juga semakin mendorong orang untuk berjalan kaki. Penyediaan jalur sepeda juga merupakan salah satu wujud dari kota yang hijau.

Cermat Merencanakan Taman

Here are some tips on gardening. Hope it will help.
========


Dok. Majalah GARDEN Selasa, 27/10/2009 | 09:52 WIB

KOMPAS.com - Membuat taman tidak boleh asal. Bila tak direncanakan dengan cermat, hanya akan menciptakan semak dan mengotori pemandangan.

Sebuah taman diciptakan dengan tujuan untuk menghadirkan keindahan. Indah tidaknya sebuah taman ditentukan dari pemilihan material softscape dan hardscape, komposisi warna dan bentuk, serta keharmonisan desain secara keseluruhan.

Beberapa proses perencanaan sering diabaikan karena terlihat sepele, padahal sebenarnya sangat menentukan keindahan taman nantinya. Beberapa hal berikut harus dicermati, agar taman yang tercipta benar-benar sesuai dengan harapan kita.

Dua hal pokok yang harus disiapkan adalah persiapan desain atau konsep taman dan persipan teknis. Persiapan desain adalah pembuatan rancang gambar taman sesuai dengan konsep desain taman yang diinginkan.

Pembuatan pola lahan, persiapan instalasi listrik dan air, peletakannya, dan penentuan titik tanam adalah beberapa hal yang harus terangkum dalam konsep desain yang dibuat.

Desain ini akan menjadi pedoman untuk melakukan perencanaan-perencanaan berikutnya. Untuk membuat desain ini, harus memperhatikan beberapa pekerjaan teknis yang akan dilakukan untuk membuat taman. Berikut uraiannya.

Menyiapkan Lahan

Kegiatan ini meliputi pekerjaan penggalian dan pembalikan tanah, pengurukan, penggemburan, dan pemberian pupuk atau penambahan unsur hara dalam tanah. Selain untuk mempersipakan lahan tanam yang siap ditanami dan memiliki kontur yang sesuai harapan kita, proses ini juga membebaskan lahan dari gulma yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman nantinya.

Proses ini sering dilewatkan karena sering kita tidak sabar untuk segera atau langsung menanam sehingga hasilnya sering mengecewakan: tanaman mati dan tidak tumbuh baik karena terganggu gulma.

Membuat Konstruksi Taman

Dalam proses ini perencanaan dan pembuatan jalan setapak dilakukan. Elemen ini penting untuk jalur sirkulasi di taman sehingga segala aktivitas di taman yang dilakukan kemudian hari tidak mengganggu keberlangsungan tumbuhnya tanaman dan elemen lainnya. Sesuai dengan luasnya taman, desain dan material jalan setapak bisa dibuat dalam berbagai pilihan.

Menentukan Elemen Keras Taman (Hardscape)

Yang termasuk dalam elemen keras taman adalah aneka pot, bebatuan, lampu, dan aksesori lain yang akan dipakai sebagai pelengkap taman, baik yang berperan fungsional maupun estetis.

Elemen Lunak Taman (Softscape)

Aneka jenis tanaman, pilihannya direncanakan di proses ini. Hal yang dipertimbangkan menyangkut masalah jenis tanaman (perdu, semak, dan pelindung). Tentang wama (bunga maupun daun) jugs menjadi hal yang harus diperhatikan karena menentukan kesemarakan taman yang tercipta dan harmonisasi wama yang ada.

Karakter setiap tanaman menyangkut: kecepatan tumbuh, bentuk tajuk, ketahanannya dalam merespon cuaca (baik panas matahari maupun hujan/air), menentukan pilihan jenis tanaman yang akan digunakan.

Penanaman dan Peletakar Hardscape

Melakukan penanaman tanaman dimulai dari jenis tanaman pelindung (yang tinggi) dan seterusnya adalah tanaman yang lebih rendah sampai ke tanaman penutup tanah. Penyebaran batu koral, kerikil, step stone, dan pemasangan lampu taman dan aksesori lain dilakukan setelah penanaman.

Penyebaran batu koral didahului dengan peletakan ijuk di permukakan yang akan diberi batu koral untuk menjaga sirkulasi air agar dapat tetap meresap ke dalam tanah dar taman tak tergenang.

Pembersihan Lahan


Kegiatan pembersihan sampai sisa hasil pengerjaan taman. Setelah taman bersih dari sampah sisa, baru dilakukan penyiraman secukupnya. Dan selanjutnya dilakukan perawatan rutin seperti pemangkasan dan penyiraman yang teratur. (Tabloid Rumah/Johanna Erly Widyarti)

Friday, December 4, 2009

Pilih-pilih Rumah

Sources: Bicararumah.com
====
Meskipun agak outdated dari tanggal sekarang, tips-tips dibawah ini masih sangat relevan hingga sekarang.
Dan penulis merasa apa yg dikemukakan oleh pengamat ini sangat menarik, meskipun keputusan selalu dan ada di tangan masing-masing....Tulisan pengamat ini hanyalah memberikan informasi, semoiga bermanfaat.

==========


Pengamat Says:
Maret 1, 2009 pukul 9:50 pm

Memilih rumah bisa dikatakan gampang-gampang susah, mengingat harganya yang tidak bisa dikatakan murah dan biasanya juga akan digunakan seumur hidup maka diperlukan pertimbangan yang matang sebelum kita menjatuhkan pilihan kepada salah satu proyek perumahan yang kita incar. Berikut ini beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih sebuah rumah:

Faktor Internal
Yang termasuk dalam faktor internal ini adalah hal-hal yang terkait langsung dengan rumah yang kita incar diantaranya adalah fisik bangunan, utilitas, posisi rumah dari jalan utama, dan lingkungan dalam perumahan itu sendiri.




Penilaian terhadap fisik bangunan bisa kita tinjau dari eksterior, interior, maupun kualitas bangunannya.

Dari sisi eksterior kita bisa menilai model rumah tersebut apakah minimalis atau klasik; seberapa banyak cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam rumah; seberapa bagus sistem ventilasi udara yang disediakan sehingga menjamin pertukaran udara yang baik; kesan megah dan luas serta estetika atau keindahan bangunan yang terlihat saat kita memandang rumah tersebut; dan adakah sisa lahan di belakang kamar utama yang dapat kita kembangkan menjadi kamar mandi dalam misalnya.

Dari sisi interior kita bisa mempertimbangkan layout denah yang ditawarkan, apakah menyebabkan ruangan terkesan sempit atau sebaliknya dan apakah perpindahan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya dapat dengan mudah dilakukan, berapa jumlah kamar tidur yang sudah disediakan dan adakah kamar untuk pembantu; bagaimana dengan ketinggian plafon rumah, apakah cukup tinggi sehingga memperbesar kesan luas ruangan; bagaimana dengan jarak septictank dengan sumber, tandon, atau pipa air bersih, apakah sudah memenuhi syarat lebih dari 5 meter, bagaimana dengan volume septictank itu sendiri, volume yang besar tentu akan memperpanjang periode pengurasannya yang berarti lebih menghemat biaya.

Dari segi kualitas bangunan, hal-hal yang harus kita perhatikan diantaranya adalah struktur bangunan, sudahkah bangunan tersebut dibangun dengan struktur beton bertulang; bagaimana pula pondasinya, ceker ayam atau batu kali, batu kali utuh atau batu kali belah, sudah memperhitungkan kekuatan jika kita ingin menambah lantai atau belum; kemudian apa bahan untuk dindingnya, hebel, bata merah, atau batako, dan adakah retak rambut pada dinding; bagaimana dengan dinding pemisah dengan rumah sebelah, sistem tunggal atau kopel; kayu apa yang digunakan untuk pintu dan kusen-kusen jendela, kamper oven kah, kamper non oven, meranti atau bahan lain; bahan apa yang digunakan untuk bak kamar mandi dan wastafel serta kloset; bahan apa yang digunakan untuk rangka atap, galvalum atau masih menggunakan kayu; jenis bahan plafon yang digunakan apakah sudah dari gypsum; gentengnya, beton, keramik, atau genteng biasa; dan terakhir finishingnya, bagus atau tidak.

Penilaian utilitas yang bisa kita lakukan diantaranya adalah ketersediaan air bersih, apakah sumbernya dari PDAM atau masih menggunakan sumur tanah; sudahkah jaringan listrik tersedia di sana dan berapa daya yang diberikan oleh developer; apakah jaringan telepon sudah siap sambung; adakah pipa distribusi gas bumi untuk perumahan di perumahan tersebut; bagaimana dengan sistem utilitasnya, apakah di atas tanah atau ditanam dalam tanah; terakhir bagaimana kerapihan utilitasnya seperti peletakan meter, pipa, valve, kabel dan lain-lain.




Dari posisi rumah dari jalan utama kita dapat menilai seberapa strategis tempat tersebut, apakah mudah dicapai dari jalan utama atau malah sebaliknya. Hal ini biasanya juga terkait dengan ketersediaan angkutan umum di sekitar tempat tersebut, semakin dekat dan mudah aksesnya dari jalan utama maka biasanya akan semakin banyak pula angkutan umum yang tersedia.




Lingkungan dalam perumahan yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan diantaranya adalah ROW jalannya; jenis jalan lingkungan apakah beton, aspal, atau paving; fasilitas umum apa saja yang disediakan; sistem keamanannya, cluster atau non cluster, bagaimana akses masuk lingkungan terbatas atau bebas, dan adakah satpam yang disediakan developer serta berapa jumlahnya; bagaimana dengan kebersihan lingkungannya, apakah dikelola oleh developer atau tidak, bagaimana saluran pembuangan air kotornya, apakah lingkungan tersebut termasuk daerah rawan banjir, dan bagaimana penerangan jalannya.

Faktor Eksternal
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan faktor eksternal ini adalah jarak dan waktu tempuh dari lokasi perumahan tersebut ke tempat aktifitas kita sehari-hari, apakah melewati titik-titik kemacetan, adakah jalur alternatifnya; bagaimana transportasi umumnya; berapa jarak lokasi dengan tempat-tempat yang dianggap penting seperti pintu tol, pasar, tempat ibadah, rumah sakit, tempat-tempat makan dan hiburan, terminal bus antar kota, stasiun kereta api, bandara, dan kantor-kantor pemerintahan; bagaimana dengan tingkat polusi di sekitar tempat tersebut, biasanya untuk daerah yang dekat kawasan industri tingkat polusinya akan lebih tinggi; selanjutnya adalah apakah daerah di sekitar tempat itu bebas banjir; dan terakhir perhatikan juga faktor resiko bahaya yang mungkin mengancam seperti misalnya kalau di Sidoarjo adalah seberapa dekat perumahan tersebut dengan lokasi bencana semburan lumpur sidoarjo.

Faktor Legal


Biasanya faktor legal terlupakan oleh kita saat memilih rumah idaman, padahal faktor ini sangat penting untuk diperhatikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan disini adalah jenis sertifikat tanah yang diberikan, apakah SHGB atau sudah SHM; bagaimana status tanah tersebut, jangan sampai terjebak membeli rumah di atas tanah sengketa atau yang sedang dijaminkan; perhatikan pula reputasi dan track record developernya, bisa dipercaya atau tidak.

Faktor Ekonomis
Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai faktor di atas, faktor ekonomis inilah yang akan menentukan jadi tidaknya kita membeli rumah tersebut. Yang perlu jadi bahan pertimbangan adalah luas tanah dan bangunannya dibandingkan dengan harga yang ditawarkan serta kemampuan keuangan kita sendiri. Utamakan memilih luas tanah yang lebih besar dengan harga yang sama meskipun luas bangunannya lebih kecil, karena cepat atau lambat kita pasti akan merenovasi rumah yang kita tempati.

Tuesday, November 24, 2009

Protect your House from Termites = Rayap

The hot topic that has been rising recentyly amongst those who live in Cibubur area is Termites or in Indonesian we call it Rayap. The termites are a group of small insects that distract dan ruin all things made of woods, including the tree-wood itself the source of man-made-wood.


There are two type of Termites:
- Drywood Termites (Rayap Kayu Kering)
- Subteranian Termites (Rayap Tanah)

and the most dangerous ones are Subteranian Termites, because they have their own hive under the ground and it is not easy to fight against them.

To protect your house and some wood-made furnitures, you may able to use chemicals, technology or even natural way...even though it's unlikely to happen :-)

Anyway from other sources that is accredible I can suggest to use:

Chemicals
- Mix of rock oil (minyak tanah) and used-car-oil (oli bekas)
- Mix of rock oil and Lentrex
- Lentrex













- Crown













- Furadan (For Tree-Wood)












Technology
- Termitenator




Natural Predators
- Certain Birds
- Ants
- Chickens

Beware of your wood-made furniture such as Kitchen set and your living room couch. Prepare all woods with chemical layer before you put them into it's place. Doors, kitchen set, chairs, tables, etc.

Good luck everyone.