Wow! Ada Jeruk Kotak di Mekarsari
Ken Yunita - detikNews, http://www.detik.com/
Jakarta - Setelah sukses dengan melon kotak, kini giliran jeruk Bali yang dibentuk kotak oleh peneliti-peneliti dari Taman Buah Mekarsari. Sama seperti melon kotak, jeruk besar ini juga bisa dimakan.
"Rasanya sama kayak jeruk yang bulat. Ini kan bukan rekayasa genetik, hanya rekayasa bentuk," kata Kepala Bagian Kebun Produksi dan Penelitian Mekarsari Riris Margiana Sari kepada detikcom, Jumat (16/4/2010).
Riris mengatakan, jeruk kotak dari jenis pamelo, atau pomelo, atau jeruk Bali (citrus maxima), dikembangkan sejak September 2009. Untuk membuat jeruk kotak ternyata dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan melon kotak.
"Melon itu buah musiman, kalau jeruk itu tahunan. Jadi waktu untuk membuatnya jadi lebih lama bisa sampai 6 bulan," kata Riris.
Namun tidak seperti melon kotak, jeruk kotak tidak dijual per buah. Namun jika pengunjung Mekarsari menginginkan, pohon dengan buah jeruk kotak dijual untuk hiasan.
"Rencananya kita memang jual untuk ornamental. Jeruk ini kan bisa bertahan lama menggelantung di pohon, jadi bisa untuk hiasan," kata Riris.
Lalu berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli pohon dengan buah jeruk kotak? "Sekitar Rp 1 juta," kata Riris. (ken/fay)
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Friday, April 16, 2010
Monday, April 12, 2010
SOS Children's Village Jakarta
SOS Children's Village Jakarta
I found this stuff on the net recently and it is a great shelter for abandoned and homeless children.
SOS Children's Village in Jakarta is situated in Cibubur.
Satau lagi tempat yang menjanjikan buat anak-anak terlantar untuk dididik dan dibina menjadi manusia yang berguna dimasa depan. Fasilitas ini dibangun oleh sebuah yayasan Germany/ Jerman.
http://www.sos-childrensvillages.org/Where-we-help/Asia/Indonesia/Jakarta/Pages/default.aspx
SOS Children's Village Jakarta is situated at Cibubur, on the outskirts of Jakarta. Jakarta is not only Indonesia's capital, but also its largest city. Like many urban areas in developing countries, Jakarta has to cope with strong social problems, such as poverty, unemployment or homelessness. When their families live under bad conditions, children often suffer most. SOS Children's Village Jakarta was built on a three-hectare site and officially inaugurated by SOS-Children's Villages' founder Herrmann Gmeiner on 14 March 1984. It consists of 15 family houses, the village director's house, an aunts' house (aunts are family helpers who support the SOS mothers), a community house, a garage with a workshop and an administrative and service area. Up to 150 orphaned or abandoned children can find a new home there.
The SOS Children's Village also has a library with a computer laboratory, a playground and a sports field where children can have fun. At the entrance to the SOS Children's Village, a traditional assembly hall was erected in 1993. This open hall, called a 'pendopo' in Indonesian, is used for all kinds of assemblies, parties, dancing and even sports events.
There is also an SOS Kindergarten, which is attended both by SOS children and by children from the neighbourhood. It offers day-care for up to 90 children. The older children attend private or state elementary and secondary schools.
Adolescent boys usually move from the village to the youth facility when they start a vocational training course or go on to higher education. With the support of qualified youth workers, the young people develop realistic perspectives for their future, learn to shoulder responsibility and increasingly make their own decisions. They are encouraged to develop team spirit and build up contacts with relatives and friends, as well as with the relevant authorities and potential employers.
The SOS Social Centre offers family strengthening, health counselling, community support, counselling and psychological support. The programmes are designed to ensure that children have access to essential services, such as education, health services and psycho-social support. Families are assisted with income generation. They also receive help when dealing with the authorities. People's parental skills and awareness of children's rights are improved.
I found this stuff on the net recently and it is a great shelter for abandoned and homeless children.
SOS Children's Village in Jakarta is situated in Cibubur.
Satau lagi tempat yang menjanjikan buat anak-anak terlantar untuk dididik dan dibina menjadi manusia yang berguna dimasa depan. Fasilitas ini dibangun oleh sebuah yayasan Germany/ Jerman.
http://www.sos-childrensvillages.org/Where-we-help/Asia/Indonesia/Jakarta/Pages/default.aspx
SOS Children's Village Jakarta is situated at Cibubur, on the outskirts of Jakarta. Jakarta is not only Indonesia's capital, but also its largest city. Like many urban areas in developing countries, Jakarta has to cope with strong social problems, such as poverty, unemployment or homelessness. When their families live under bad conditions, children often suffer most. SOS Children's Village Jakarta was built on a three-hectare site and officially inaugurated by SOS-Children's Villages' founder Herrmann Gmeiner on 14 March 1984. It consists of 15 family houses, the village director's house, an aunts' house (aunts are family helpers who support the SOS mothers), a community house, a garage with a workshop and an administrative and service area. Up to 150 orphaned or abandoned children can find a new home there.
Image: Alexander Gabriel
The SOS Children's Village also has a library with a computer laboratory, a playground and a sports field where children can have fun. At the entrance to the SOS Children's Village, a traditional assembly hall was erected in 1993. This open hall, called a 'pendopo' in Indonesian, is used for all kinds of assemblies, parties, dancing and even sports events.
There is also an SOS Kindergarten, which is attended both by SOS children and by children from the neighbourhood. It offers day-care for up to 90 children. The older children attend private or state elementary and secondary schools.
Adolescent boys usually move from the village to the youth facility when they start a vocational training course or go on to higher education. With the support of qualified youth workers, the young people develop realistic perspectives for their future, learn to shoulder responsibility and increasingly make their own decisions. They are encouraged to develop team spirit and build up contacts with relatives and friends, as well as with the relevant authorities and potential employers.
The SOS Social Centre offers family strengthening, health counselling, community support, counselling and psychological support. The programmes are designed to ensure that children have access to essential services, such as education, health services and psycho-social support. Families are assisted with income generation. They also receive help when dealing with the authorities. People's parental skills and awareness of children's rights are improved.
KPR is higher than expectations
Anothger graet news on property's KPR.
============
Penyaluran KPR Melonjak
Senin, 12 April 2010 | 04:16 WIB
Jakarta, Kompas - Seiring turunnya suku bunga dan membaiknya daya beli masyarakat, penyaluran kredit pemilikan rumah atau KPR selama triwulan I-2010 melonjak tajam. Pertumbuhan KPR diperkirakan semakin cepat dalam bulan-bulan mendatang karena suku bunga KPR masih akan turun.
PT Bank Tabungan Negara Tbk, bank terbesar di pasar KPR, telah menyalurkan KPR Rp 4,56 triliun selama triwulan I-2010 atau tumbuh 45 persen dibandingkan dengan realisasi KPR di periode yang sama 2009.
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro, akhir pekan lalu di Jakarta, menjelaskan, dengan pertumbuhan KPR yang signifikan, posisi KPR BTN per akhir Maret 2010 mencapai Rp 33 triliun, yakni Rp 19,8 triliun ke KPR bersubsidi dan Rp 13,1 triliun ke KPR nonsubsidi.
Pesatnya pertumbuhan KPR, antara lain, dipicu oleh tren penurunan bunga KPR. Saat ini suku bunga KPR untuk nasabah baru 10,75 persen, padahal tahun lalu masih 12-13 persen. ”Ke depan, bunga KPR masih berpeluang turun seiring cost of fund yang makin rendah,” kata Iqbal.
Apalagi kebutuhan rumah juga cenderung semakin besar. Menurut data, pertumbuhan kebutuhan rumah 800.000 unit per tahun, pasokannya hanya 300.000 per tahun. Jadi, kebutuhan rumah terus meningkat, mencapai 5,8 juta unit saat ini.
General Manager Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Diah Sulianto menjelaskan, posisi KPR BNI per akhir Maret 2010 mencapai Rp 8,87 triliun, meningkat 27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, Rp 7 triliun.
Pertumbuhan KPR BNI yang ekspansif, kata Diah, didukung layanan yang semakin cepat dan bunga KPR yang kompetitif.
Direktur Konsumer Bank Mandiri Mansyur Nasution mengatakan, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan KPR 45 persen pada 2010. ”Adapun realisasi penyaluran KPR 2009 sekitar Rp 3,3 triliun,” kata dia.
Iqbal menjelaskan, penyaluran KPR yang ekspansif berdampak pada raihan laba bersih BTN yang tercatat Rp 187,85 miliar pada akhir Maret 2010, naik 72 persen dibanding periode sama 2009, yaitu Rp 109,4 miliar.
Perolehan laba didorong oleh margin bunga bersih yang naik dari 3,87 persen menjadi 5,59 persen. Namun, kredit bermasalah (NPL) gross BTN juga naik, dari 3,96 persen pada akhir triwulan I-2009 menjadi 4 persen pada akhir triwulan I-2010. ”Namun, kami bisa menjaga NPL net di level 3,28 persen,” kata iqbal.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono memperkirakan penyaluran KPR akan tumbuh signifikan pada 2010.
”Confidence pelaku ekonomi begitu meningkat sehingga permintaan terhadap KPR pasti naik,” ujar dia.
Tony berpendapat, penurunan bunga KPR bergantung pada kemampuan bank mengutak-atik struktur ongkosnya dan menaikkan pendapatan yang berbasis nonbunga. (FAJ)
============
Penyaluran KPR Melonjak
Senin, 12 April 2010 | 04:16 WIB
Jakarta, Kompas - Seiring turunnya suku bunga dan membaiknya daya beli masyarakat, penyaluran kredit pemilikan rumah atau KPR selama triwulan I-2010 melonjak tajam. Pertumbuhan KPR diperkirakan semakin cepat dalam bulan-bulan mendatang karena suku bunga KPR masih akan turun.
PT Bank Tabungan Negara Tbk, bank terbesar di pasar KPR, telah menyalurkan KPR Rp 4,56 triliun selama triwulan I-2010 atau tumbuh 45 persen dibandingkan dengan realisasi KPR di periode yang sama 2009.
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro, akhir pekan lalu di Jakarta, menjelaskan, dengan pertumbuhan KPR yang signifikan, posisi KPR BTN per akhir Maret 2010 mencapai Rp 33 triliun, yakni Rp 19,8 triliun ke KPR bersubsidi dan Rp 13,1 triliun ke KPR nonsubsidi.
Pesatnya pertumbuhan KPR, antara lain, dipicu oleh tren penurunan bunga KPR. Saat ini suku bunga KPR untuk nasabah baru 10,75 persen, padahal tahun lalu masih 12-13 persen. ”Ke depan, bunga KPR masih berpeluang turun seiring cost of fund yang makin rendah,” kata Iqbal.
Apalagi kebutuhan rumah juga cenderung semakin besar. Menurut data, pertumbuhan kebutuhan rumah 800.000 unit per tahun, pasokannya hanya 300.000 per tahun. Jadi, kebutuhan rumah terus meningkat, mencapai 5,8 juta unit saat ini.
General Manager Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Diah Sulianto menjelaskan, posisi KPR BNI per akhir Maret 2010 mencapai Rp 8,87 triliun, meningkat 27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, Rp 7 triliun.
Pertumbuhan KPR BNI yang ekspansif, kata Diah, didukung layanan yang semakin cepat dan bunga KPR yang kompetitif.
Direktur Konsumer Bank Mandiri Mansyur Nasution mengatakan, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan KPR 45 persen pada 2010. ”Adapun realisasi penyaluran KPR 2009 sekitar Rp 3,3 triliun,” kata dia.
Iqbal menjelaskan, penyaluran KPR yang ekspansif berdampak pada raihan laba bersih BTN yang tercatat Rp 187,85 miliar pada akhir Maret 2010, naik 72 persen dibanding periode sama 2009, yaitu Rp 109,4 miliar.
Perolehan laba didorong oleh margin bunga bersih yang naik dari 3,87 persen menjadi 5,59 persen. Namun, kredit bermasalah (NPL) gross BTN juga naik, dari 3,96 persen pada akhir triwulan I-2009 menjadi 4 persen pada akhir triwulan I-2010. ”Namun, kami bisa menjaga NPL net di level 3,28 persen,” kata iqbal.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono memperkirakan penyaluran KPR akan tumbuh signifikan pada 2010.
”Confidence pelaku ekonomi begitu meningkat sehingga permintaan terhadap KPR pasti naik,” ujar dia.
Tony berpendapat, penurunan bunga KPR bergantung pada kemampuan bank mengutak-atik struktur ongkosnya dan menaikkan pendapatan yang berbasis nonbunga. (FAJ)
Friday, April 9, 2010
KPR growth in first quarter 2010
Good news come from property. KPR growth is amazing in first quarter 2010.
=============
KPR Tumbuh Subur, Didominasi Landed House
Jumat, 9/4/2010 | 13:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kredit pemilikan rumah atau KPR sepertinya tumbuh subur di tahun ini. Tengok saja penyaluran KPR ke masyarakat hingga Maret 2010.
Misalnya saja produk KPR Bank BNI yang ngetop dengan sebutan BNI Griya. Per akhir Maret 2010, penyaluran KPR BNI Griya telah mencapai Rp 8,8 triliun. Jika posisi (outstanding) per Desember 2009 sebesar Rp 8,2 triliun, artinya BNI Griya telah mengalami pertumbuhan 7,5 persen dalam tiga bulan.
Tak heran Manajer Umum Divisi Kredit Konsumen BNI Diah Sulianto optimistis, BNI bisa menyalurkan kredit KPR baru hingga Rp 3,8 triliun di sepanjang 2010 ini. Artinya, total outstanding KPR BNI setidaknya bisa mencapai Rp 12 triliun di akhir 2010.
Indrastomo Nugroho, Product Development and Business Monitoring Divisi Kredit Konsumen BNI menambahkan, tahun lalu KPR BNI tumbuh 17 persen dibandingkan tahun 2008. "Sepanjang 2009, nilai KPR baru BNI sebesar Rp 2,75 triliun," tutur Indrastomo.
Diah berpendapat, tahun ini potensi pertumbuhan KPR masih sangat bagus. "Potensinya luar biasa. Apalagi sudah didukung dengan iklan dan promosi yang lebih kreatif. Kami tahun ini juga lebih proaktif," tutur Diah. Ia optimistis, KPR BNI tahun ini bisa tumbuh 28 persen.
"Landed house" masih mendominasi
Saat ini, komposisi portofolio BNI Griya masih didominasi oleh KPR rumah atau landed house. Kata Diah, proporsi apartemen masih tergolong kecil. "Belum sampai 5 persen dari total portofolio kami," ujarnya.
Mengenai kredit bermasalah alias non performing loan (NPL), Diah bilang, nilainya tak terlalu tinggi. Nilai rasio NPL BNI Griya per Maret sekitar 0,6 persen.
Ke depan, untuk menarik minat nasabah, Bank BNI akan menyiapkan produk-produk dan program KPR dengan konsep BNI Griya Inspiring Green Living. Ini merupakan konsep rumah ramah lingkungan.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah melontarkan optimisme serupa. Menurut Evi, kebutuhan perumahan diperkirakan akan terus bertambah sekitar 11 juta unit hingga akhir 2010. "Sektor properti masih bisa bertumbuh hingga 15 persen, dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen," tegas Evi.
Tahun ini BTN menargetkan bisa menyalurkan fulus hingga Rp 25 triliun ke sektor perumahan. Nilai ini naik 20 persen sampai 30 persen dibandingkan dengan penyaluran kreditnya tahun lalu.
Dengan aset di atas Rp 50 triliun, tahun lalu penyaluran kredit bank jagoan KPR ini tumbuh hingga 27 persen. "Pertumbuhan KPR nasional saja cuma sekitar 13 persen," ujar Evi.
Per akhir Maret 2010, nilai KPR BTN sudah menembus Rp 43,2 triliun. Dengan target pertumbuhan KPR sebesar 27 persen, tahun ini BTN menargetkan paling tidak bisa menyalurkan KPR hingga Rp 51,7 triliun. "Hingga Desember 2009, outstanding KPR kami mencapai Rp 40,7 triliun," tegas Evi. (Raymond Reynaldi/Andri Indradie/KONTAN)
=============
KPR Tumbuh Subur, Didominasi Landed House
Jumat, 9/4/2010 | 13:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kredit pemilikan rumah atau KPR sepertinya tumbuh subur di tahun ini. Tengok saja penyaluran KPR ke masyarakat hingga Maret 2010.
Misalnya saja produk KPR Bank BNI yang ngetop dengan sebutan BNI Griya. Per akhir Maret 2010, penyaluran KPR BNI Griya telah mencapai Rp 8,8 triliun. Jika posisi (outstanding) per Desember 2009 sebesar Rp 8,2 triliun, artinya BNI Griya telah mengalami pertumbuhan 7,5 persen dalam tiga bulan.
Tak heran Manajer Umum Divisi Kredit Konsumen BNI Diah Sulianto optimistis, BNI bisa menyalurkan kredit KPR baru hingga Rp 3,8 triliun di sepanjang 2010 ini. Artinya, total outstanding KPR BNI setidaknya bisa mencapai Rp 12 triliun di akhir 2010.
Indrastomo Nugroho, Product Development and Business Monitoring Divisi Kredit Konsumen BNI menambahkan, tahun lalu KPR BNI tumbuh 17 persen dibandingkan tahun 2008. "Sepanjang 2009, nilai KPR baru BNI sebesar Rp 2,75 triliun," tutur Indrastomo.
Diah berpendapat, tahun ini potensi pertumbuhan KPR masih sangat bagus. "Potensinya luar biasa. Apalagi sudah didukung dengan iklan dan promosi yang lebih kreatif. Kami tahun ini juga lebih proaktif," tutur Diah. Ia optimistis, KPR BNI tahun ini bisa tumbuh 28 persen.
"Landed house" masih mendominasi
Saat ini, komposisi portofolio BNI Griya masih didominasi oleh KPR rumah atau landed house. Kata Diah, proporsi apartemen masih tergolong kecil. "Belum sampai 5 persen dari total portofolio kami," ujarnya.
Mengenai kredit bermasalah alias non performing loan (NPL), Diah bilang, nilainya tak terlalu tinggi. Nilai rasio NPL BNI Griya per Maret sekitar 0,6 persen.
Ke depan, untuk menarik minat nasabah, Bank BNI akan menyiapkan produk-produk dan program KPR dengan konsep BNI Griya Inspiring Green Living. Ini merupakan konsep rumah ramah lingkungan.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah melontarkan optimisme serupa. Menurut Evi, kebutuhan perumahan diperkirakan akan terus bertambah sekitar 11 juta unit hingga akhir 2010. "Sektor properti masih bisa bertumbuh hingga 15 persen, dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen," tegas Evi.
Tahun ini BTN menargetkan bisa menyalurkan fulus hingga Rp 25 triliun ke sektor perumahan. Nilai ini naik 20 persen sampai 30 persen dibandingkan dengan penyaluran kreditnya tahun lalu.
Dengan aset di atas Rp 50 triliun, tahun lalu penyaluran kredit bank jagoan KPR ini tumbuh hingga 27 persen. "Pertumbuhan KPR nasional saja cuma sekitar 13 persen," ujar Evi.
Per akhir Maret 2010, nilai KPR BTN sudah menembus Rp 43,2 triliun. Dengan target pertumbuhan KPR sebesar 27 persen, tahun ini BTN menargetkan paling tidak bisa menyalurkan KPR hingga Rp 51,7 triliun. "Hingga Desember 2009, outstanding KPR kami mencapai Rp 40,7 triliun," tegas Evi. (Raymond Reynaldi/Andri Indradie/KONTAN)
Thursday, April 1, 2010
Foreigners May Own Property in Indonesia
One more good news on property investment for foreigners in Indonesia
=====
Source: Kompas.com 1 April 2010
Orang Asing Boleh Memiliki Property di Indonesia.
JAKARTA, KOMPAS.com - FOREIGNERS may be allowed to own apartments and even commercial property in Indonesia under a revised rule expected by the third quarter of this year, Indonesia's investment chief said yesterday.
The move is likely to draw investors into South-east Asia's biggest economy and increase the flow of foreign capital into the country.
'The government is committed to continuously review policies to make it easier to invest in Indonesia,' said Mr Gita Wirjawan, chairman of the National Investment Coordinating Board, at a forum in Singapore yesterday.
'I am optimistic that once we can be seen to be taking steps in the right direction, we'll be able to reach a 15 per cent increase in foreign investment over last year's US$14 billion (S$19.6 billion).'
His remarks were welcomed by property market watchers and expatriates in Jakarta. It was the clearest indication yet that the government was relaxing the rules on foreign ownership of property in the country, they said.
The move also comes at a time when improving fiscal stability could earn Indonesia an investment grade sovereign rating within a few years, according to Bloomberg News.
=====
Source: Kompas.com 1 April 2010
Orang Asing Boleh Memiliki Property di Indonesia.
JAKARTA, KOMPAS.com - FOREIGNERS may be allowed to own apartments and even commercial property in Indonesia under a revised rule expected by the third quarter of this year, Indonesia's investment chief said yesterday.
The move is likely to draw investors into South-east Asia's biggest economy and increase the flow of foreign capital into the country.
'The government is committed to continuously review policies to make it easier to invest in Indonesia,' said Mr Gita Wirjawan, chairman of the National Investment Coordinating Board, at a forum in Singapore yesterday.
'I am optimistic that once we can be seen to be taking steps in the right direction, we'll be able to reach a 15 per cent increase in foreign investment over last year's US$14 billion (S$19.6 billion).'
His remarks were welcomed by property market watchers and expatriates in Jakarta. It was the clearest indication yet that the government was relaxing the rules on foreign ownership of property in the country, they said.
The move also comes at a time when improving fiscal stability could earn Indonesia an investment grade sovereign rating within a few years, according to Bloomberg News.
Wednesday, March 31, 2010
Property Insurance in Indonesia
Here is an article from internet that might be useful for us to know more about insurance in property area. What it covers, what it doesn't, what are the requirements, what can be claimed, what types insurance are....etc....
==============
Source: ahliasuransi.com
Property All Risks (PAR) = Industrial All Risks (IAR)
Monday, July 7, 2008, 9:00
Property All Risks, Property Insurance7
Property All Risks Insurance
Covers everything except listed exclusions
PAR/IAR is a very “famoust” name amongst other insurance types, because it covers everything (All Risks) except only a few numbers of risks listed as exclusions
Typical Policy Inclusions
· Coverage for Riots, Strikes, Malicious Damage and Civil Commotions
· Coverage for Typhoon, Storm, Flood and Water Damage
· Coverage for Earthquake, Volcanic Eruption and Tsunami
· Coverage for Landslide and Subsidence
Principal Exclusions
· War, civil war, terrorism, nuclear, radioactive
· Delay, loss of market or consequential loss
· Dishonesty, fraudulent act
· Mechanical breakdown, overheating of boilers
· Wear and tear, inherent vice
· Pollution or contamination
Property Exclusions
· Property being worked upon / in course of construction
· Property in transit, road vehicles, watercraft, aircraft
· Jewelry, precious stone, work of art
· Timber, crops, animal, bird, fish
· Land, roads, railways, canals, rigs, well, pipelines, bridges
Additional Benefits (Clauses)
All Other Contents
Average Relief (85%)
Architects, Surveyors and Consulting Engineers
Capital addition (10% of TSI)
Civil Authorities
Claims Preparation
Fire Brigades Charges
Fire Extinguishing Costs
Impact by own vehicle
Internal Removal
Outbuilding
Public Authorities
Removal of Debris
Reinstatement value
Temporary Removal
…………..
Etc
Deductibles
Deductible is your own risk, amount that will be deducted from your claim payable, for each risks or circumstances usually set out below:
- Fire, Lightning, Explosion, Impact of Aircraft and Smoke : NIL
- Riots, Strikes, Malicious Damage and Civil Commotions : 10% of claim, min Rp10,000,000
- Typhoon, Storm, Flood and Water Damage : 10% of claim
- Landslide and subsidence : 10% of claim
- Earthquake, Volcanic Eruption and Tsunami : 2.5% of TSI
- Others : Rp1,000,000
Property All Risks
In summary, It covers ………
•Fire • Lightning •Explosion • Impact of Aircraft •Riots • Strikes •Malicious act • Civil Commotions •Earthquake • Volcanic Eruption •Tsunami • Typhoon, Storm •Flood, Water Damage • Burglary •Landslide • Impact of vehicle •Impact of falling trees • Architects Fees •Fire Brigades Charges • Fire Extinguishing Expenses •Removal of Debris • Claim Preparation Costs •Other accidental damages •and many more
Business Interruption – optional cover
It Covers Loss of Gross Profit if during the period of insurance the business carried on by the Insured at the premises specified in the Schedule is interrupted or interfered with in consequence of loss destruction or damage indemnifiable under Section I (Property Damage)
•Gross Profit : Sales – Variable Costs – Savings (Net Profit + Fixed Costs)
•Gross Rental : Rental – Savings
•Indemnity Period : 12 to 24 months
Machinery Breakdown – optional cover with sub limit
It Covers any unforeseen, sudden and accidental physical loss, or damage from causes such as defects in casting and material, faulty design, faults at workshop or in erection, bad workmanship, lack of skill, carelessness, shortage of water in boilers, physical explosion, tearing apart on account of centrifugal force, short circuit, storm or from any other cause not specifically excluded in the General or Special Exclusions hereinafter in a manner necessitating repair or replacement.
Occupation
Every kind of occupation or business can be insured under Property/Industrial All Risks (PAR/IAR) usually with high value to meet the minimum premium required.
•Factory • Industrial or Manufacturing Risks •Warehouses • Ofices •Shophouses • Schools •Hospitals• Hotels •Malls • Container Terminal •Ship Yard • Entertainment • High rise building •Dwelling House •and Others
Premium
It stars from 0.1% to 0.25%
Off course, it depends on some underwriting factors i.e. occupation, risk location, sum insured, terms and conditions, loss history, etc. indicative ratings on some occupation are:
You just need to call and advice the occupation, risk location and sums insured, for this type of insurance, survey is compulsory.
==============
Source: ahliasuransi.com
Property All Risks (PAR) = Industrial All Risks (IAR)
Monday, July 7, 2008, 9:00
Property All Risks, Property Insurance7
Property All Risks Insurance
Covers everything except listed exclusions
PAR/IAR is a very “famoust” name amongst other insurance types, because it covers everything (All Risks) except only a few numbers of risks listed as exclusions
Typical Policy Inclusions
· Coverage for Riots, Strikes, Malicious Damage and Civil Commotions
· Coverage for Typhoon, Storm, Flood and Water Damage
· Coverage for Earthquake, Volcanic Eruption and Tsunami
· Coverage for Landslide and Subsidence
Principal Exclusions
· War, civil war, terrorism, nuclear, radioactive
· Delay, loss of market or consequential loss
· Dishonesty, fraudulent act
· Mechanical breakdown, overheating of boilers
· Wear and tear, inherent vice
· Pollution or contamination
Property Exclusions
· Property being worked upon / in course of construction
· Property in transit, road vehicles, watercraft, aircraft
· Jewelry, precious stone, work of art
· Timber, crops, animal, bird, fish
· Land, roads, railways, canals, rigs, well, pipelines, bridges
Additional Benefits (Clauses)
All Other Contents
Average Relief (85%)
Architects, Surveyors and Consulting Engineers
Capital addition (10% of TSI)
Civil Authorities
Claims Preparation
Fire Brigades Charges
Fire Extinguishing Costs
Impact by own vehicle
Internal Removal
Outbuilding
Public Authorities
Removal of Debris
Reinstatement value
Temporary Removal
…………..
Etc
Deductibles
Deductible is your own risk, amount that will be deducted from your claim payable, for each risks or circumstances usually set out below:
- Fire, Lightning, Explosion, Impact of Aircraft and Smoke : NIL
- Riots, Strikes, Malicious Damage and Civil Commotions : 10% of claim, min Rp10,000,000
- Typhoon, Storm, Flood and Water Damage : 10% of claim
- Landslide and subsidence : 10% of claim
- Earthquake, Volcanic Eruption and Tsunami : 2.5% of TSI
- Others : Rp1,000,000
Property All Risks
In summary, It covers ………
•Fire • Lightning •Explosion • Impact of Aircraft •Riots • Strikes •Malicious act • Civil Commotions •Earthquake • Volcanic Eruption •Tsunami • Typhoon, Storm •Flood, Water Damage • Burglary •Landslide • Impact of vehicle •Impact of falling trees • Architects Fees •Fire Brigades Charges • Fire Extinguishing Expenses •Removal of Debris • Claim Preparation Costs •Other accidental damages •and many more
Business Interruption – optional cover
It Covers Loss of Gross Profit if during the period of insurance the business carried on by the Insured at the premises specified in the Schedule is interrupted or interfered with in consequence of loss destruction or damage indemnifiable under Section I (Property Damage)
•Gross Profit : Sales – Variable Costs – Savings (Net Profit + Fixed Costs)
•Gross Rental : Rental – Savings
•Indemnity Period : 12 to 24 months
Machinery Breakdown – optional cover with sub limit
It Covers any unforeseen, sudden and accidental physical loss, or damage from causes such as defects in casting and material, faulty design, faults at workshop or in erection, bad workmanship, lack of skill, carelessness, shortage of water in boilers, physical explosion, tearing apart on account of centrifugal force, short circuit, storm or from any other cause not specifically excluded in the General or Special Exclusions hereinafter in a manner necessitating repair or replacement.
Occupation
Every kind of occupation or business can be insured under Property/Industrial All Risks (PAR/IAR) usually with high value to meet the minimum premium required.
•Factory • Industrial or Manufacturing Risks •Warehouses • Ofices •Shophouses • Schools •Hospitals• Hotels •Malls • Container Terminal •Ship Yard • Entertainment • High rise building •Dwelling House •and Others
Premium
It stars from 0.1% to 0.25%
Off course, it depends on some underwriting factors i.e. occupation, risk location, sum insured, terms and conditions, loss history, etc. indicative ratings on some occupation are:
You just need to call and advice the occupation, risk location and sums insured, for this type of insurance, survey is compulsory.
Monday, March 22, 2010
Picking the right home for your family
Here is one good article from the Jakarta Post. It's talking about the gathering place for meeting or even for wedding in Raffless Hills Cibubur.
======
Picking the right home for your family
Andrea Tejokusumo , THE JAKARTA POST , JAKARTA | Thu, 02/25/2010 12:09 PM | Supplement
Whether you're a first-time buyer, a migrant professional or an investor seeking to climb up the property ladder, the same principles apply when looking for a dream home for every member of the family. The golden rule is simple: find a house you know you can turn into a home.
Many people would agree that in the search of the perfect abode, the three key factors to consider are location, location, location. Since the lack of ample housing around Central Jakarta may pose a problem, families with a penchant for modern urban life are continuously seeking solace at the city's abundant offerings of apartments and residences.
"Ideally, apartments and serviced residences should offer prime location, the utmost convenience and a thorough security system," said Herlina Tamblin, GM sales and marketing for The Peak at Sudirman.
According to Herlina, around-the-clock security and the use of private lifts and access cards at top-rated apartment buildings have become a sort of customary rule for the comfort and privacy of tenants.
Furthermore, facilities from fitness center and first-class sports facilities (like The Peak's Olympic-size swimming pool), together with spa and sauna, coffee shop, mini market and laundry service, can give much added value for residents.
Herlina reckons that The Peak's flexible lease terms - starting from one-month lease periods and with the choice of either unfurnished, semi-furnished or fully-furnished unit - should make moving in and out all the more hassle-free and convenient for migrant professionals and expatriates.
"Especially for families with children, The Peak has a playground and kids' room as well as an all-purpose function room. There are special rates available for corporate tenants, and a limited time sales offer is currently running until the end of the month," she said.
Apartment life may be getting more common in an urban jungle like Jakarta, but how about families still craving the feel of a traditional home, gardens and all?
One of the most important things to consider when buying a house on the outskirts of Jakarta is notably accessibility: not only do transportation links allow you easier access to and from the city, having additional routes can have a big effect on property values in the area.
There are also considerations for the surrounding area's potential and new developments such as restaurants, shops, schools and other entertainment offerings.
For this purpose, residential complexes like Raffles Hills Cibubur serve as a marriage of both worlds. Situated 900 meters from the Cibubur toll gate, the cozy complex is literally minutes away from the city with all the mod cons of modern life.
Raffles' Hills residents can now look forward to more gatherings and social events as its developer unveils Tirta Raffles Hills, a new facility for holding outdoor events with a total capacity of 1,000 persons.
Wherever you choose to stay and however large your home, keep in mind that the right house will become your sanctuary, a safe place for your children and their friends, and a place where you will make many lasting, happy memories for years to come.
======
Picking the right home for your family
Andrea Tejokusumo , THE JAKARTA POST , JAKARTA | Thu, 02/25/2010 12:09 PM | Supplement
Whether you're a first-time buyer, a migrant professional or an investor seeking to climb up the property ladder, the same principles apply when looking for a dream home for every member of the family. The golden rule is simple: find a house you know you can turn into a home.
Many people would agree that in the search of the perfect abode, the three key factors to consider are location, location, location. Since the lack of ample housing around Central Jakarta may pose a problem, families with a penchant for modern urban life are continuously seeking solace at the city's abundant offerings of apartments and residences.
"Ideally, apartments and serviced residences should offer prime location, the utmost convenience and a thorough security system," said Herlina Tamblin, GM sales and marketing for The Peak at Sudirman.
According to Herlina, around-the-clock security and the use of private lifts and access cards at top-rated apartment buildings have become a sort of customary rule for the comfort and privacy of tenants.
Furthermore, facilities from fitness center and first-class sports facilities (like The Peak's Olympic-size swimming pool), together with spa and sauna, coffee shop, mini market and laundry service, can give much added value for residents.
Herlina reckons that The Peak's flexible lease terms - starting from one-month lease periods and with the choice of either unfurnished, semi-furnished or fully-furnished unit - should make moving in and out all the more hassle-free and convenient for migrant professionals and expatriates.
"Especially for families with children, The Peak has a playground and kids' room as well as an all-purpose function room. There are special rates available for corporate tenants, and a limited time sales offer is currently running until the end of the month," she said.
Apartment life may be getting more common in an urban jungle like Jakarta, but how about families still craving the feel of a traditional home, gardens and all?
One of the most important things to consider when buying a house on the outskirts of Jakarta is notably accessibility: not only do transportation links allow you easier access to and from the city, having additional routes can have a big effect on property values in the area.
There are also considerations for the surrounding area's potential and new developments such as restaurants, shops, schools and other entertainment offerings.
For this purpose, residential complexes like Raffles Hills Cibubur serve as a marriage of both worlds. Situated 900 meters from the Cibubur toll gate, the cozy complex is literally minutes away from the city with all the mod cons of modern life.
Raffles' Hills residents can now look forward to more gatherings and social events as its developer unveils Tirta Raffles Hills, a new facility for holding outdoor events with a total capacity of 1,000 persons.
Wherever you choose to stay and however large your home, keep in mind that the right house will become your sanctuary, a safe place for your children and their friends, and a place where you will make many lasting, happy memories for years to come.
Friday, March 19, 2010
TDL raise will increase the housing price
One news that come to us in the beginning of 2010 is the plan of raising the power tarrif by 15% (TDL). It is said by many kind of organisations that the plan will automatically increase the housing price. Will it be true? Considering all materials will increase too due to power tariff raised.
We should see from some point of views. The article below is from developer point of issue. Is that the reason they raise the price for houses? Just to increase their margin? But we believe on one thing might lead to another. Just be fair.
Here is another article talking about the issue
Source: Kompas.com 19 March 2010
Jumat, 19/3/2010 | 05:09 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana kenaikan tarif dasar listrik mulai Juli 2010 membuat pengembang properti resah. Kenaikan tarif itu dinilai akan berdampak pada penambahan struktur biaya produksi rumah.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo di Jakarta, Kamis (18/3), mengatakan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk industri akan berdampak pada harga bahan baku pembuatan rumah karena biaya produksi industri bahan baku rumah akan meningkat.
Bahan baku rumah yang diperkirakan harganya akan naik antara lain semen, besi, dan komponen listrik seperti kabel. Apalagi, meski belum ada kenaikan TDL, harga baja (salah satu komponen produksi rumah) telah naik.
”Kenaikan TDL akan berdampak pada peningkatan harga komponen bahan baku rumah. Padahal, harga rumah sederhana bersubsidi dipatok tidak boleh melampaui harga maksimum,” ujar Eddy.
Untuk membangun rumah sederhana bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 4,5 juta per bulan, pemerintah mematok harga maksimum rumah sederhana sehat Rp 55 juta per unit dan harga rumah susun sederhana milik Rp 144 juta per unit.
Kenaikan biaya produksi rumah, menurut Eddy, tidak sebanding dengan patokan harga rumah bersubsidi. Ini membuat margin keuntungan pengembang semakin tertekan.
Oleh karena itu, Eddy meminta pemerintah segera mengkaji ulang patokan harga rumah sederhana sehat dan rumah susun sederhana milik.
Apalagi, lanjut Eddy, kenaikan TDL belum menjamin tersedianya jaringan listrik untuk rumah sederhana sehat dan rumah susun sederhana milik. Menurut data Apersi, setidaknya 25.000 rumah yang dibangun Apersi saat ini belum teraliri listrik.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria menegaskan, tidak adanya sambungan listrik pada rumah yang sudah terbangun membuat rumah tersebut belum layak untuk dihuni.
Kekurangan pasokan listrik perumahan, kata Teguh, tiap tahun cenderung terus meningkat. Pemerintah diimbau untuk melakukan upaya yang serius untuk menjamin ketersediaan listrik bagi rumah-rumah.
”Hambatan pasokan listrik perumahan jika terus dibiarkan akan membuat laju kekurangan penyediaan rumah layak huni semakin besar,” ujar Eddy.
Berdasarkan data Kementerian Perumahan Rakyat, sekitar 100.000 rumah sederhana sehat hingga Januari 2010 belum tersambung listrik.
Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa menilai, rencana kenaikan TDL tidak akan memengaruhi pengadaan perumahan bagi masyarakat menengah bawah. Kenaikan TDL hanya berlaku bagi perumahan yang memiliki kapasitas di atas 900 kilovolt ampere.
Menpera berharap kenaikan TDL bisa meningkatkan rasio kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia. ”Saya harap, dengan kenaikan TDL, listrik di Indonesia tidak byarpet lagi,” kata dia.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral J Purwono mengemukakan, pemerintah sedang mempersiapkan detail kenaikan TDL.
Besaran kenaikan TDL direncanakan berlaku variatif. Ada golongan pelanggan yang mengalami kenaikan TDL lebih dari 15 persen, tetapi ada yang kurang dari 15 persen. (Brigita Maria Lukita/KOMPAS Cetak)
We should see from some point of views. The article below is from developer point of issue. Is that the reason they raise the price for houses? Just to increase their margin? But we believe on one thing might lead to another. Just be fair.
Here is another article talking about the issue
Source: Kompas.com 19 March 2010
Jumat, 19/3/2010 | 05:09 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana kenaikan tarif dasar listrik mulai Juli 2010 membuat pengembang properti resah. Kenaikan tarif itu dinilai akan berdampak pada penambahan struktur biaya produksi rumah.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo di Jakarta, Kamis (18/3), mengatakan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk industri akan berdampak pada harga bahan baku pembuatan rumah karena biaya produksi industri bahan baku rumah akan meningkat.
Bahan baku rumah yang diperkirakan harganya akan naik antara lain semen, besi, dan komponen listrik seperti kabel. Apalagi, meski belum ada kenaikan TDL, harga baja (salah satu komponen produksi rumah) telah naik.
”Kenaikan TDL akan berdampak pada peningkatan harga komponen bahan baku rumah. Padahal, harga rumah sederhana bersubsidi dipatok tidak boleh melampaui harga maksimum,” ujar Eddy.
Untuk membangun rumah sederhana bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 4,5 juta per bulan, pemerintah mematok harga maksimum rumah sederhana sehat Rp 55 juta per unit dan harga rumah susun sederhana milik Rp 144 juta per unit.
Kenaikan biaya produksi rumah, menurut Eddy, tidak sebanding dengan patokan harga rumah bersubsidi. Ini membuat margin keuntungan pengembang semakin tertekan.
Oleh karena itu, Eddy meminta pemerintah segera mengkaji ulang patokan harga rumah sederhana sehat dan rumah susun sederhana milik.
Apalagi, lanjut Eddy, kenaikan TDL belum menjamin tersedianya jaringan listrik untuk rumah sederhana sehat dan rumah susun sederhana milik. Menurut data Apersi, setidaknya 25.000 rumah yang dibangun Apersi saat ini belum teraliri listrik.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria menegaskan, tidak adanya sambungan listrik pada rumah yang sudah terbangun membuat rumah tersebut belum layak untuk dihuni.
Kekurangan pasokan listrik perumahan, kata Teguh, tiap tahun cenderung terus meningkat. Pemerintah diimbau untuk melakukan upaya yang serius untuk menjamin ketersediaan listrik bagi rumah-rumah.
”Hambatan pasokan listrik perumahan jika terus dibiarkan akan membuat laju kekurangan penyediaan rumah layak huni semakin besar,” ujar Eddy.
Berdasarkan data Kementerian Perumahan Rakyat, sekitar 100.000 rumah sederhana sehat hingga Januari 2010 belum tersambung listrik.
Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa menilai, rencana kenaikan TDL tidak akan memengaruhi pengadaan perumahan bagi masyarakat menengah bawah. Kenaikan TDL hanya berlaku bagi perumahan yang memiliki kapasitas di atas 900 kilovolt ampere.
Menpera berharap kenaikan TDL bisa meningkatkan rasio kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia. ”Saya harap, dengan kenaikan TDL, listrik di Indonesia tidak byarpet lagi,” kata dia.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral J Purwono mengemukakan, pemerintah sedang mempersiapkan detail kenaikan TDL.
Besaran kenaikan TDL direncanakan berlaku variatif. Ada golongan pelanggan yang mengalami kenaikan TDL lebih dari 15 persen, tetapi ada yang kurang dari 15 persen. (Brigita Maria Lukita/KOMPAS Cetak)
Monday, March 8, 2010
Jasa Marga is taking over the construction on JORR 2
This news is great..regarding the JORR 2...Finally there's one more step ahead on this project
==========
Satu Bulan, Target Jasa Marga Tuntaskan Akuisisi JORR 2
Minggu, 7 Maret 2010 | 09:02 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Jasa Marga Tbk akan menuntaskan proses akuisisi Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2 atau JORR 2 dari investor lama dalam satu bulan ke depan. "Saat ini masih dalam proses negosiasi dengan pemilik lama. Diharapkan dalam waktu satu bulan sudah dapat selesai," kata Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito di Jakarta, Minggu (7/3/2010).
Frans mengatakan, sebenarnya ada sejumlah ruas tol yang akan diakuisisi karena investor lama tidak kunjung melaksanakan pekerjaan. Namun, Jasa Marga memprioritaskan JORR2. Ruas JORR2 yang sudah ditangani Jasa Marga diantaranya Kunciran-Serpong 12 kilometer dan Cengkareng-Kunciran 16 kilometer.
Adapun ruas tol yang dalam proses pengambilalihan (akuisisi) meliputi Cimanggis-Cibitung 26 kilometer dan Serpong-Cinere 10 kilometer. Keduanya belum menandatangani perjanjian dengan pemerintah sejak memenangkan lelang tahun 2008.
PT Jasa Marga menyiapkan alokasi pendanaan sampai dengan Rp 3 triliun untuk proses akuisisi. Rencana itu sudah mendapat persetujuan dari pemegang saham. "Proses akuisisi sendiri dapat dilaksanakan dengan meningkatkan kepemilikan saham di ruas itu atau mengambil langsung semua ruas jalan tol," ungkap Frans.
Frans mengatakan, untuk membuat ruas tol memberi kontribusi yang diinginkan, ruas-ruas itu harus terhubung ke dalam satu jaringan jalan yang utuh, bukan kemudian berdiri sendiri. "Hal ini menjadi latar belakang Jasa Marga mengakuisisi sejumlah ruas tol JORR2 yang diperkirakan dapat meningkatkan akses bagi masyarakat yang tinggal di pinggir Jakarta," ujarnya.
JORR2 juga dapat mengurangi kepadatan di pusat Kota Jakarta yang selama ini menjadi problem, terutama saat jam-jam sibuk.
==========
Satu Bulan, Target Jasa Marga Tuntaskan Akuisisi JORR 2
Minggu, 7 Maret 2010 | 09:02 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Jasa Marga Tbk akan menuntaskan proses akuisisi Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2 atau JORR 2 dari investor lama dalam satu bulan ke depan. "Saat ini masih dalam proses negosiasi dengan pemilik lama. Diharapkan dalam waktu satu bulan sudah dapat selesai," kata Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito di Jakarta, Minggu (7/3/2010).
Frans mengatakan, sebenarnya ada sejumlah ruas tol yang akan diakuisisi karena investor lama tidak kunjung melaksanakan pekerjaan. Namun, Jasa Marga memprioritaskan JORR2. Ruas JORR2 yang sudah ditangani Jasa Marga diantaranya Kunciran-Serpong 12 kilometer dan Cengkareng-Kunciran 16 kilometer.
Adapun ruas tol yang dalam proses pengambilalihan (akuisisi) meliputi Cimanggis-Cibitung 26 kilometer dan Serpong-Cinere 10 kilometer. Keduanya belum menandatangani perjanjian dengan pemerintah sejak memenangkan lelang tahun 2008.
PT Jasa Marga menyiapkan alokasi pendanaan sampai dengan Rp 3 triliun untuk proses akuisisi. Rencana itu sudah mendapat persetujuan dari pemegang saham. "Proses akuisisi sendiri dapat dilaksanakan dengan meningkatkan kepemilikan saham di ruas itu atau mengambil langsung semua ruas jalan tol," ungkap Frans.
Frans mengatakan, untuk membuat ruas tol memberi kontribusi yang diinginkan, ruas-ruas itu harus terhubung ke dalam satu jaringan jalan yang utuh, bukan kemudian berdiri sendiri. "Hal ini menjadi latar belakang Jasa Marga mengakuisisi sejumlah ruas tol JORR2 yang diperkirakan dapat meningkatkan akses bagi masyarakat yang tinggal di pinggir Jakarta," ujarnya.
JORR2 juga dapat mengurangi kepadatan di pusat Kota Jakarta yang selama ini menjadi problem, terutama saat jam-jam sibuk.
JASA MARGA is constructing 250Km new toll road
It is said that jasa marga is going to build another 250Km new toll road in Indonesia in 2-3 years time ahead. That means JORR 2 which is connecting Cimanggis t Cibitung (a.k.a JORR Cibubur) will be done in that period too...that's a good news....
========================
Jasa Marga Bakal Bangun 250 Km Jalan Tol Baru
Minggu, 7 Maret 2010 | 14:54 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
BANDUNG, KOMPAS.com — PT Jasa Marga menginvestasikan dana Rp 250 triliun untuk pembangunan jalan tol baru. Rencananya, ruas jalan baru ini akan banyak dibangun di Pulau Jawa. Dengan begitu, Jasa Marga menargetkan bisa membangun 250 kilometer jalan tol baru. Sebelumnya, 530 kilometer jalan tol sudah dibangun.
Direktur Utama PT Jasa Marga Frans S Sunito mengungkapkan, PT Jasa Marga akan segera merealisasikan 250 km jalan tol baru di Indonesia. Lebih kurang 150 km di antaranya merupakan jalan tol Trans-Jawa. "Dalam tiga atau empat tahun ke depan, Indonesia akan memiliki 750 km jalan tol," ujarnya di Acara Penanaman Pohon dalam rangka ulang tahun ke-32 PT Jasa Marga di ruas Tol Purbaleunyi Km 108, Sabtu (6/3/2010).
Ia juga mengatakan, Jasa Marga akan merealisasikan pembuatan jalan tol baru dan lanjutan di wilayah Jabodetabek, antara lain Jakarta Outer Ring Road (JORR), Serpong-Cinere, Cimanggis-Cibitung, dan Bogor Outer Ring Road (BORR).
"Infrasturktur sangat dibutuhkan, dan jalan tol menjadi salah satu konsep menyikapi kebutuhan akan jalan. Selain itu, jalan tol mampu mengintegrasikan setiap daerah," katanya.
Pembangunan jalan tol baru, ujar Frans, sudah mulai dilakukan oleh Jasa Marga. Namun, pihaknya mengaku masih mengalami kendala, seperti pembebasan lahan. Kendala ini masih menjadi kendala utama yang dialami Jasa Marga setiap akan membangun jalan tol baru, padahal pihaknya sudah menyiapkan dana awal untuk pembebasan lahan tersebut. "Investasi ini (Rp 250 triliun) sudah termasuk untuk pembebasan lahan. Namun, kami masih terkendala masalah ini," ujarnya. (tif)
========================
Jasa Marga Bakal Bangun 250 Km Jalan Tol Baru
Minggu, 7 Maret 2010 | 14:54 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
BANDUNG, KOMPAS.com — PT Jasa Marga menginvestasikan dana Rp 250 triliun untuk pembangunan jalan tol baru. Rencananya, ruas jalan baru ini akan banyak dibangun di Pulau Jawa. Dengan begitu, Jasa Marga menargetkan bisa membangun 250 kilometer jalan tol baru. Sebelumnya, 530 kilometer jalan tol sudah dibangun.
Direktur Utama PT Jasa Marga Frans S Sunito mengungkapkan, PT Jasa Marga akan segera merealisasikan 250 km jalan tol baru di Indonesia. Lebih kurang 150 km di antaranya merupakan jalan tol Trans-Jawa. "Dalam tiga atau empat tahun ke depan, Indonesia akan memiliki 750 km jalan tol," ujarnya di Acara Penanaman Pohon dalam rangka ulang tahun ke-32 PT Jasa Marga di ruas Tol Purbaleunyi Km 108, Sabtu (6/3/2010).
Ia juga mengatakan, Jasa Marga akan merealisasikan pembuatan jalan tol baru dan lanjutan di wilayah Jabodetabek, antara lain Jakarta Outer Ring Road (JORR), Serpong-Cinere, Cimanggis-Cibitung, dan Bogor Outer Ring Road (BORR).
"Infrasturktur sangat dibutuhkan, dan jalan tol menjadi salah satu konsep menyikapi kebutuhan akan jalan. Selain itu, jalan tol mampu mengintegrasikan setiap daerah," katanya.
Pembangunan jalan tol baru, ujar Frans, sudah mulai dilakukan oleh Jasa Marga. Namun, pihaknya mengaku masih mengalami kendala, seperti pembebasan lahan. Kendala ini masih menjadi kendala utama yang dialami Jasa Marga setiap akan membangun jalan tol baru, padahal pihaknya sudah menyiapkan dana awal untuk pembebasan lahan tersebut. "Investasi ini (Rp 250 triliun) sudah termasuk untuk pembebasan lahan. Namun, kami masih terkendala masalah ini," ujarnya. (tif)
Wednesday, January 27, 2010
PROPERTY TALK: It's Time to Apply Eco-Property
One Great Article about Eco-Green-Property
====
Kompas.com ,Tuesday, 26/1/2010 | 15:53 WIB
Foreword
The Internation Real Estate Conference by FIABCI (The International Real Estate Federation) will be held in Bali next May. Indonesia is honored to host the event. One of the main agenda in the coming conference is: green property. To further discuss about the conference, we invite Mr. Teguh Satria, REI chairman or president of FIABCI Indonesia, and Mr. Pingki Elka Pangestu, chief organizer for the 61st FIABCI conference who is also the president of FIABCI Asia Pacific.
Thank you for coming Mr. Teguh Satria and Mr.Pingki Elka Pangestu.
FIABCI will hold a conference in Bali next May. How is it that Indonesia was appointed as host of the FIABCI World Congress this year?
Teguh Satria: It's quite a long story. We fought hard so that Indonesia could become host. We first offered to be host in 2008, in Amsterdam. We had promotions there, but because of some changes in the system ti couldn't be decided in Amsterdam. So it was to be decided in Beijing, China at the 60th World Congress, but then it was disrupted by the H1N1 virus so that it was canceled.
(Besides that,) the meeting to determine the host of the 61st World Congress was done from October 6 to 8, 2009, in Dubai, the United Arab Emirates. At that time we competed with other countries, which were Italy and Norway. We had some very difficult questions, among which regarding safety, the Bali bombings and such. But we tried to convince our colleagues in FIABCI that we are able to host the event.
Actually we were appointed (as host) in 1998, and the reason for their doubt was that in 1998 the conference in Jakarta, Indonesia, was canceled due to multidimensional crises, and at that time it was May. So we had to give our best effort to convince them, and it even called for two votings. Finally because Italy declined, there were only Indonesia and Norway. And (in) the two votings, we happen to gain the upper hand, so that finally Indonesia was appointed as the host for the 61st FIABCI World Congress in Nusa Dua, Bali, which will be held from May 24 to 28, 2010, at Grand Hyatt Nusa Dua, Bali.
How far is the preparation for the 61st FIABCI World Congress?
Pingki Elka Pangestu: Usually, as Mr. Teguh mentioned, a congress should have two years for preparation. But in this case we only have a very short period: six months, so that the preparation is rushed. Currently we could say we are 80 percent ready for the event, including for the permits, venues, tours, and ceremonies, all of which are being designed. And, God willing, we will go to Bali for the finalization. Soon everything should be on.
Reportedly a number of world figures such as Mark Zuckerberg, CEO and Founder of Facebook, former US President Bill Clinton, Temasek CEO Madame Ho Ching, will attend this event.
Teguh Satria: Mr. Pingki will explain in detail about the speakers. We are hoping, and we have sent the (invitation) letter to the President of the Republic of Indonesia Mr. SBY, that he would be willing to do the opening of this event. Because this is a very important event, not just for us, but we hope that with this world event we can introduce the Indonesian property to a world scale. I'm sure that our products can match other world class (property) products. For the details of who will be the speakers and so on, Mr. Pingki as chief organizer can explain.
Okay, Mr. Pingki, other than the three mentioned earlier, who else will be at the world congress?
Pingki Elka Pangestu: We hope the three speakers alternatively will be (giving) the keynote speeches, they will give insight about the overall world condition. next there will be five forums discussing that real estate is now integrated. For this we will present a number of social figures, for (talking about) what we dub as social networking like Facebook and others. So we'll try Mark. There will also be some renowned architects, for landmark buildings, icons.
Next we will exclusively discuss about finance. There is Mr. James Riady from Indonesia, whom we hope to be one of the speakers. There will also be CEOs from Asia Pacific and Europe. We are also inviting speakers for green building and eco-tourism, such as the founder of Banyan Tree. Last we will try to relate to socio-cultural issues, among which we will ask for the Bali Governor Made Mangku Pastika to be a speaker because Bali is one place where world integration and harmony happen.
From Indonesia, other than James Riady and Made Mangku Pastika, who else will share their experiences?
Pingki Elka Pangestu: We're hoping for Mr. Ciputra, the real estate figure and one of the founders of Indonesian real estate. And from the government there will be Mr. Jero Wacik, the minister of culture and tourism, and the state public housing minister, and other figures.
The conference is themed 'eco-property'. What's the principle behind the eco-property theme for the congress?
Pingki Elka Pangestu: If we look at the title (theme), (it's) Green Shoot for Sustainable Real Estate. Green shoot is the sappling for world resurgence for the property field that has been down. We also see this as an opportunity to introspect a little, ahead, the real estate world must be continuous, this means it extends to environmental and economic issues, and even from the aspect of socio-culture. So eco-property is one topic that we must face. The world trend is going there. And in Bali, as it happens, some of our projects have applied the green property principles.
Mr. Teguh, how far has the Indonesian property industry applied the eco-property concept currently?
Teguh Satria: There has been much intention, but practically, those who fulfill all the eco-property requirements are probably few. But one good news is that they are proud (of their achievements), as you can see from various ads, there're green buildings this and that and so on. With this opportunity we'd like to invite the experts to introduce what eco-property really is, it's not just 'green' as it turns out. At least, the positive news is that both developers and consumers are aware and proud (of eco-property), so we can sell by stating it's a green building, a green design and so on. And the buyers feel proud of the products. This is one good capital. It's good that some have started to apply (the eco-property principles), although we still need better socialization.
Mr. Teguh and Mr. Pingki, what will the landscape of Indonesia be if developers apply green property, green building, and eco-property principles?
Pingki Elka Pangestu:
It's obvious that one of these projects (The Pakubuwono Residence Jakarta), is the winner of the Prix d'Excellence Awards by BNI and FIABCI Indonesia. What is visible is the green environment. But actually the things behind that are what matters: infrastructure, recycling, mitigating polution et cetera. So this is one example of applying 80 percent of the green aspect, but behind that, which matters more, is that we can give the best for the residents.
====
Kompas.com ,Tuesday, 26/1/2010 | 15:53 WIB
Foreword
The Internation Real Estate Conference by FIABCI (The International Real Estate Federation) will be held in Bali next May. Indonesia is honored to host the event. One of the main agenda in the coming conference is: green property. To further discuss about the conference, we invite Mr. Teguh Satria, REI chairman or president of FIABCI Indonesia, and Mr. Pingki Elka Pangestu, chief organizer for the 61st FIABCI conference who is also the president of FIABCI Asia Pacific.
Thank you for coming Mr. Teguh Satria and Mr.Pingki Elka Pangestu.
FIABCI will hold a conference in Bali next May. How is it that Indonesia was appointed as host of the FIABCI World Congress this year?
Teguh Satria: It's quite a long story. We fought hard so that Indonesia could become host. We first offered to be host in 2008, in Amsterdam. We had promotions there, but because of some changes in the system ti couldn't be decided in Amsterdam. So it was to be decided in Beijing, China at the 60th World Congress, but then it was disrupted by the H1N1 virus so that it was canceled.
(Besides that,) the meeting to determine the host of the 61st World Congress was done from October 6 to 8, 2009, in Dubai, the United Arab Emirates. At that time we competed with other countries, which were Italy and Norway. We had some very difficult questions, among which regarding safety, the Bali bombings and such. But we tried to convince our colleagues in FIABCI that we are able to host the event.
Actually we were appointed (as host) in 1998, and the reason for their doubt was that in 1998 the conference in Jakarta, Indonesia, was canceled due to multidimensional crises, and at that time it was May. So we had to give our best effort to convince them, and it even called for two votings. Finally because Italy declined, there were only Indonesia and Norway. And (in) the two votings, we happen to gain the upper hand, so that finally Indonesia was appointed as the host for the 61st FIABCI World Congress in Nusa Dua, Bali, which will be held from May 24 to 28, 2010, at Grand Hyatt Nusa Dua, Bali.
How far is the preparation for the 61st FIABCI World Congress?
Pingki Elka Pangestu: Usually, as Mr. Teguh mentioned, a congress should have two years for preparation. But in this case we only have a very short period: six months, so that the preparation is rushed. Currently we could say we are 80 percent ready for the event, including for the permits, venues, tours, and ceremonies, all of which are being designed. And, God willing, we will go to Bali for the finalization. Soon everything should be on.
Reportedly a number of world figures such as Mark Zuckerberg, CEO and Founder of Facebook, former US President Bill Clinton, Temasek CEO Madame Ho Ching, will attend this event.
Teguh Satria: Mr. Pingki will explain in detail about the speakers. We are hoping, and we have sent the (invitation) letter to the President of the Republic of Indonesia Mr. SBY, that he would be willing to do the opening of this event. Because this is a very important event, not just for us, but we hope that with this world event we can introduce the Indonesian property to a world scale. I'm sure that our products can match other world class (property) products. For the details of who will be the speakers and so on, Mr. Pingki as chief organizer can explain.
Okay, Mr. Pingki, other than the three mentioned earlier, who else will be at the world congress?
Pingki Elka Pangestu: We hope the three speakers alternatively will be (giving) the keynote speeches, they will give insight about the overall world condition. next there will be five forums discussing that real estate is now integrated. For this we will present a number of social figures, for (talking about) what we dub as social networking like Facebook and others. So we'll try Mark. There will also be some renowned architects, for landmark buildings, icons.
Next we will exclusively discuss about finance. There is Mr. James Riady from Indonesia, whom we hope to be one of the speakers. There will also be CEOs from Asia Pacific and Europe. We are also inviting speakers for green building and eco-tourism, such as the founder of Banyan Tree. Last we will try to relate to socio-cultural issues, among which we will ask for the Bali Governor Made Mangku Pastika to be a speaker because Bali is one place where world integration and harmony happen.
From Indonesia, other than James Riady and Made Mangku Pastika, who else will share their experiences?
Pingki Elka Pangestu: We're hoping for Mr. Ciputra, the real estate figure and one of the founders of Indonesian real estate. And from the government there will be Mr. Jero Wacik, the minister of culture and tourism, and the state public housing minister, and other figures.
The conference is themed 'eco-property'. What's the principle behind the eco-property theme for the congress?
Pingki Elka Pangestu: If we look at the title (theme), (it's) Green Shoot for Sustainable Real Estate. Green shoot is the sappling for world resurgence for the property field that has been down. We also see this as an opportunity to introspect a little, ahead, the real estate world must be continuous, this means it extends to environmental and economic issues, and even from the aspect of socio-culture. So eco-property is one topic that we must face. The world trend is going there. And in Bali, as it happens, some of our projects have applied the green property principles.
Mr. Teguh, how far has the Indonesian property industry applied the eco-property concept currently?
Teguh Satria: There has been much intention, but practically, those who fulfill all the eco-property requirements are probably few. But one good news is that they are proud (of their achievements), as you can see from various ads, there're green buildings this and that and so on. With this opportunity we'd like to invite the experts to introduce what eco-property really is, it's not just 'green' as it turns out. At least, the positive news is that both developers and consumers are aware and proud (of eco-property), so we can sell by stating it's a green building, a green design and so on. And the buyers feel proud of the products. This is one good capital. It's good that some have started to apply (the eco-property principles), although we still need better socialization.
Mr. Teguh and Mr. Pingki, what will the landscape of Indonesia be if developers apply green property, green building, and eco-property principles?
Pingki Elka Pangestu:
It's obvious that one of these projects (The Pakubuwono Residence Jakarta), is the winner of the Prix d'Excellence Awards by BNI and FIABCI Indonesia. What is visible is the green environment. But actually the things behind that are what matters: infrastructure, recycling, mitigating polution et cetera. So this is one example of applying 80 percent of the green aspect, but behind that, which matters more, is that we can give the best for the residents.
Tuesday, January 26, 2010
ADA YANG MASIH NAIK PESAT, ADA YANG SUDAH MELAMBAT
This article is talking about some urban areas in Jakarta. Cibubur is one of them. If the audience notice, recently, when talking about some urban areas, Cibubur is always taking into account. That shows us that Cibubur is getting prospective in the future.
=======
Kontan Online, 1 Dec 2009
Prospek investasi properti di inggiran Jakarta terbilang cerah. Saban tahun, harga tanah di Cibubur, Serpong, dan Depok terus meningkat. Kenaikan harga tanah terbesar terjadi di Depok. Sementara, Serpong berpotensi mengalami kejenuhan. Mari mencermati prospek investasi properti di kawasan Cibubur, Serpong, dan Depok.
Wajah Yuliana Wiyanto terlihat sumringah. Wanita ini baru saja mendulang keuntungan besar dari hasil menjual rumah miliknya di kluster Pesona Madrid Kota Wisata, Cibubur. Dia melepas rumah itu dengan harga Rp 400 juta. Padahal, sekitar sembilan tahun yang lalu dia hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 250 juta untuk memperoleh rumah tipe 144/120 meter persegi (m²) itu. Lain lagi dengan Rio Affianto. Karyawan swasta ini berniat melego rumah tipe 90/140 di Kota Wisata seharga Rp 275 juta. “Sekarang saya mau jual karena istri ingin punya rumah dekat orangtua di Pondok Kelapa,” bebernya. Meski belum laku, rumah milik Rio sudah ditawar cukup tinggi. Ia mengklaim sudah ada yang berani menawar seharga Rp 250 juta. Padahal, Rio membeli rumah pada 2007 silam dengan harga Rp 195 juta. Keuntungan jual beli properti ini tentu menggembirakan para investor. Masalahnya, tidak sedikit orang yang bingung bagaimana memilih dan menentukan properti yang menguntungkan di masa depan. Kepala Riset Jones Lang Lasalle Anton Sitorus menyarankan investor mencari kawasan yang sedang berkembang untuk berinvestasi. Alasannya, harga tanah dan properti di daerah yang berkembang cenderung meningkat lebih cepat. Nah, bagaimana prospek kawasan di pinggiran Jakarta saat ini? Silakan ikuti ulasan KONTAN berikut:
Cibubur
Lokasi ini termasuk salah satu daerah yang menjadi favorit untuk tempat tinggal dan berinvestasi. Banyak orang tertarik membeli rumah yang terletak di pinggiran Ibukota ini. Pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia bilang, akses yang bisa terjangkau dari Jakarta Selatan, Bekasi, dan Bogor menjadi salah satu keunggulan kawasan Cibubur. Tak heran apabila harga tanah dan properti di Cibubur memang cenderung meningkat setiap tahun. Salah satu contohnya harga tanah dan bangunan di perumahan Kota Wisata. Manajer Promosi Kota Wisata Hogeny menerangkan, pada 2007 lalu harga tanah berkisar Rp 900.000 hingga Rp 3,5 juta per m². Sekadar catatan, perbedaan harga tadi berdasarkan pada lokasi dan kluster. Selang setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,1 juta hingga Rp 4 juta per m².
Tahun ini, Duta Pertiwi mencatat, harga tanah sudah menjadi Rp 1,3 juta?Rp 4 juta. Berarti, kenaikan harga tanah sebesar 18% dari tahun sebelumnya. “Segala fasilitas yang dibutuhkan orang perkotaan sudah tersedia di Kota Wisata. Itu yang menjadi salah satu daya tariknya,” kata Hogeny, beraroma promosi. Fasilitas yang tersedia di Kota Wisata terbilang komplet, mulai dari sekolah, rumah ibadah, sarana olahraga, hingga taman rekreasi seperti Kampoeng China dan Kampoeng Indonesia. Hogeny mengklaim, kedua tempat rekreasi itu telah berubah menjadi objek wisata. Total pengunjung mencapai 50.000 orang pada hari libur. Perumahan yang mengusung tema City of Millions Enchantment alias Kota Sejuta Pesona ini telah menggarap 350 hektare atau separuh dari total lahan seluas 750 hektare. Hingga kini, Kota Wisata telah menelurkan 29 kluster. Kluster teranyar, yakni Hacienda dan Coatesville, sudah dipasarkan sejak Oktober 2009 lalu. Kluster ini terdiri dari 200 unit rumah hunian. Harga satu unit rumah tipe 162 antara Rp 947 juta hingga Rp 1,8 miliar. Kenaikan harga juga terjadi di perumahan Citragran, yang hanya sepelemparan batu dari Kota Wisata. Kepala Divisi Penjualan Citragran Lia Ariyani menghitung, kenaikan harga tanah di perumahannya antara 10% hingga 20% per tahun. Ilustrasinya begini. Pada tiga tahun silam, Citragran menjual tanah sebesar Rp 1,1 juta per m². Setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,4 juta dan tahun ini senilai Rp 1,6 juta pe m². Menurut Lia, kenaikan harga tanah dan properti demi keuntungan para investor. Di masa mendatang, Ali memperkirakan, harga tanah di Cibubur bakal melonjak dengan adanya rencana pembangunan Jakarta Outer Ring Road (JORR) bagian selatan melalui jalan tol T.B. Simatupang dan Pondok Pinang. Dia memprediksi, kenaikan bisa mencapai 20% setahun. Cuma, Ali mengingatkan, masalah kemacetan lalulintas di kawasan tersebut bisa menjadi problem bila tidak segera diselesaikan.
Serpong
Lonjakan harga juga terjadi di Serpong, Tangerang. Sejak munculnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 1989 silam, harga tanah dan properti di sini amat meroket. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD Idham Muchlis mengatakan, harga tanah dan properti BSD naik antara 15% hingga 20% per tahun. Dalam catatan Idham, pada 2004 silam harga tanah di BSD sekitar Rp 750.000 per m² dan bangunan sekitar Rp 2 juta per m². Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per m² dan harga bangunan sudah mencapai Rp 3,2 juta per m². Menurut Idham, lonjakan harga yang signifikan terjadi pada periode tahun 1995?1996 dan 2004?2006. “Bisa dibilang waktu itu booming properti, sehingga harga naik tinggi,” ujarnya. Selain BSD, harga tanah dan properti di Perumahan Alam Sutera juga meroket. Sejak berdiri 1994 silam, harga tanah di perumahan tetangga BSD ini naik 10% setiap tahun. “Meski naik, tapi harga tanah di Alam Sutera masih lebih murah dibanding daerah sekeliling,” ujar Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan. Hendra mengungkapkan, saat ini harga tanah dipatok Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Bandingkan dengan dua tahun lalu, kala harga tanah masih sekitar Rp 1,3 juta per m², dan setahun kemudian meningkat menjadi Rp 2,25 juta per m². “Itu harga tanah rumah hunian. Kalau yang komersial kenaikannya lebih besar,” ujar Hendra. Harga tanah komersial sekarang Rp 4,4 juta per m².
Padahal, pada 2007 lalu, harganya masih Rp 1,7 juta per m². Itu berarti ada kenaikan sebesar Rp 2,7 juta per m² dalam selang waktu tiga tahun. Salah satu penyebab harga tanah di proyek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini meroket lantaran adanya akses jalan tol sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Merak. Jalan tol ini juga memberikan akses ke Bandara Soekarno-Hatta. Salah seorang investor yang sudah merasakan nikmatnya berinvestasi di Serpong adalah Yolanda Hanneke. Pada 2000, ia menukarkan duit sebanyak Rp 190 juta dengan sebuah rumah tipe 160/140 di Alam Sutera. Ketika itu, ia mengeluarkan kocek tambahan Rp 50 juta untuk melakukan beberapa perbaikan. “Beberapa bulan lalu saya jual rumah itu seharga Rp 600 juta,” ujar Yolanda. Pengamat properti Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, kawasan Serpong pertama kali menjadi primadona sewaktu banjir besar melanda perumahan-perumahan di Jakarta pada beberapa tahun lalu. Selain bebas banjir, menurut Ali, tingginya permintaan lantaran lokasi sekitar Serpong sudah mulai jenuh. Cuma, Ali menilai, kenaikan harga properti di Serpong mulai melamban. Dalam hitungannya, kenaikan harga sepanjang tahun ini hanya sebesar 12%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, Ali mencatat kenaikan harga yang lebih besar, yakni dalam rentang 15% hingga 25%. Ali beralasan, penurunan ini terjadi karena kawasan Serpong sudah mulai padat. Alhasil, dia melihat banyak orang melirik kawasan di sekitarnya, seperti Sawangan, Bintaro, Pondok Cabe. “Apalagi ada potensi JORR 2 lewat situ,” jelas Ali.
Depok
Kawasan di sebelah selatan Ibukota ini bisa menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi properti. Soalnya, tersedia banyak infrastruktur untuk mengakses daerah ini. Iklim di daerah pinggiran Jakarta ini juga turut mendukung. Bila Jakarta panas lantaran padat penduduk, beberapa daerah Depok terbilang masih sejuk karena berbatasan dengan kaki Gunung Salak. Kini, daerah penyebaran perumahan kawasan Depok mulai dari kawasan Cimanggis, Sukmajaya, Sawangan, sampai Cinere. Salah satu pengembang di kawasan Depok adalah Grup Sinarmas. Grup ini tengah mengembangkan perumahan Telaga Golf Sawangan.Proyek perumahan seluas 100 hektare ini sudah berjalan sejak Februari 2000 lalu. “Saat ini total tanah yang terbangun sebesar 60% dari lahan keseluruhan,” ungkap Supervisor Pemasaran Telaga Golf Sawangan Agnes Kusumawardani. Soal potensi di masa mendatang, Agnes yakin bakal cerah. Argumen dia, pemerintah sudah merencanakan pembangunan jalan tol Depok-Antasari (Desari). Jarak pintu tol dengan perumahan ini terbilang dekat. “Kurang lebih sekitar 3 kilometer,” kata Agnes. Sejak berdiri, harga tanah dan properti di perumahan ini naik sekitar 10% per tahun. Agnes mengungkapkan, kenaikan tertinggi terjadi pada 2007 dan 2008 lalu akibat lonjakan harga material dan bahan bakar minyak (BBM). Sebagai gambaran, harga tanah pada 2007 silam sebesar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per m². Setahun berselang, harganya naik sedikit jadi Rp 900.000. Terakhir, harganya parkir di kisaran Rp 1,29 juta per m². Kenaikan harga tanah juga mengerek harga hunian. Sebagai contoh, harga rumah tipe 144/160 di kluster Sevilla naik dari Rp 450 juta pada 2007 lalu tahun ini menjadi Rp 600 juta. Sekarang, pengembang sedang asyik ketak-ketok proyek kluster teranyar, yakni North Espanola. Kluster ini menawarkan tiga tipe, antara lain Ibiza atau tipe 144/160. Perumahan lain di Depok adalah Permata Cimanggis. Harga tanah dan hunian di perumahan besutan Grup Permata ini melonjak sebesar 30% hingga 40% per tahun. Saat ini, harga tanah sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,7 juta per m².
Lalu, “Di masa mendatang, tentu punya potensi baik karena ada kabar pembangunan jalan tol Cinere?Jagorawi dan relokasi terminal Depok ke daerah tepat di belakang proyek perumahan,” ujar Supervisor Pemasaran Permata Cimanggis Taufan Hery Kuswanto. Proyek teranyar dari Permata Cimanggis, yakni kluster Mutiara, sudah berjalan sejak awal Oktober kemarin. Tipe yang ditawarkan di kluster Mutiara ini ada dua, yaitu tipe 45/84 dan tipe 45/90,dengan banderol harga berkisar antara Rp 250 juta hingga Rp 350 juta. Anton Sitorus memprediksi, potensi pertumbuhan properti di Depok masih bagus. “Karena Depok termasuk salah satu kawasan yang mengakomodasi wilayah Jakarta. Apalagi ditunjang adanya kereta api,” ujar Anton. Selain itu, prospek investasi properti di Depok sama baiknya dengan daerah pinggiran Jakarta lain seperti Serpong dan Cibubur. “Kenaikan harganya saya pikir bisa sekitar 10% per tahun,” jelas Anton.
=======
Kontan Online, 1 Dec 2009
Prospek investasi properti di inggiran Jakarta terbilang cerah. Saban tahun, harga tanah di Cibubur, Serpong, dan Depok terus meningkat. Kenaikan harga tanah terbesar terjadi di Depok. Sementara, Serpong berpotensi mengalami kejenuhan. Mari mencermati prospek investasi properti di kawasan Cibubur, Serpong, dan Depok.
Wajah Yuliana Wiyanto terlihat sumringah. Wanita ini baru saja mendulang keuntungan besar dari hasil menjual rumah miliknya di kluster Pesona Madrid Kota Wisata, Cibubur. Dia melepas rumah itu dengan harga Rp 400 juta. Padahal, sekitar sembilan tahun yang lalu dia hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 250 juta untuk memperoleh rumah tipe 144/120 meter persegi (m²) itu. Lain lagi dengan Rio Affianto. Karyawan swasta ini berniat melego rumah tipe 90/140 di Kota Wisata seharga Rp 275 juta. “Sekarang saya mau jual karena istri ingin punya rumah dekat orangtua di Pondok Kelapa,” bebernya. Meski belum laku, rumah milik Rio sudah ditawar cukup tinggi. Ia mengklaim sudah ada yang berani menawar seharga Rp 250 juta. Padahal, Rio membeli rumah pada 2007 silam dengan harga Rp 195 juta. Keuntungan jual beli properti ini tentu menggembirakan para investor. Masalahnya, tidak sedikit orang yang bingung bagaimana memilih dan menentukan properti yang menguntungkan di masa depan. Kepala Riset Jones Lang Lasalle Anton Sitorus menyarankan investor mencari kawasan yang sedang berkembang untuk berinvestasi. Alasannya, harga tanah dan properti di daerah yang berkembang cenderung meningkat lebih cepat. Nah, bagaimana prospek kawasan di pinggiran Jakarta saat ini? Silakan ikuti ulasan KONTAN berikut:
Cibubur
Lokasi ini termasuk salah satu daerah yang menjadi favorit untuk tempat tinggal dan berinvestasi. Banyak orang tertarik membeli rumah yang terletak di pinggiran Ibukota ini. Pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia bilang, akses yang bisa terjangkau dari Jakarta Selatan, Bekasi, dan Bogor menjadi salah satu keunggulan kawasan Cibubur. Tak heran apabila harga tanah dan properti di Cibubur memang cenderung meningkat setiap tahun. Salah satu contohnya harga tanah dan bangunan di perumahan Kota Wisata. Manajer Promosi Kota Wisata Hogeny menerangkan, pada 2007 lalu harga tanah berkisar Rp 900.000 hingga Rp 3,5 juta per m². Sekadar catatan, perbedaan harga tadi berdasarkan pada lokasi dan kluster. Selang setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,1 juta hingga Rp 4 juta per m².
Tahun ini, Duta Pertiwi mencatat, harga tanah sudah menjadi Rp 1,3 juta?Rp 4 juta. Berarti, kenaikan harga tanah sebesar 18% dari tahun sebelumnya. “Segala fasilitas yang dibutuhkan orang perkotaan sudah tersedia di Kota Wisata. Itu yang menjadi salah satu daya tariknya,” kata Hogeny, beraroma promosi. Fasilitas yang tersedia di Kota Wisata terbilang komplet, mulai dari sekolah, rumah ibadah, sarana olahraga, hingga taman rekreasi seperti Kampoeng China dan Kampoeng Indonesia. Hogeny mengklaim, kedua tempat rekreasi itu telah berubah menjadi objek wisata. Total pengunjung mencapai 50.000 orang pada hari libur. Perumahan yang mengusung tema City of Millions Enchantment alias Kota Sejuta Pesona ini telah menggarap 350 hektare atau separuh dari total lahan seluas 750 hektare. Hingga kini, Kota Wisata telah menelurkan 29 kluster. Kluster teranyar, yakni Hacienda dan Coatesville, sudah dipasarkan sejak Oktober 2009 lalu. Kluster ini terdiri dari 200 unit rumah hunian. Harga satu unit rumah tipe 162 antara Rp 947 juta hingga Rp 1,8 miliar. Kenaikan harga juga terjadi di perumahan Citragran, yang hanya sepelemparan batu dari Kota Wisata. Kepala Divisi Penjualan Citragran Lia Ariyani menghitung, kenaikan harga tanah di perumahannya antara 10% hingga 20% per tahun. Ilustrasinya begini. Pada tiga tahun silam, Citragran menjual tanah sebesar Rp 1,1 juta per m². Setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,4 juta dan tahun ini senilai Rp 1,6 juta pe m². Menurut Lia, kenaikan harga tanah dan properti demi keuntungan para investor. Di masa mendatang, Ali memperkirakan, harga tanah di Cibubur bakal melonjak dengan adanya rencana pembangunan Jakarta Outer Ring Road (JORR) bagian selatan melalui jalan tol T.B. Simatupang dan Pondok Pinang. Dia memprediksi, kenaikan bisa mencapai 20% setahun. Cuma, Ali mengingatkan, masalah kemacetan lalulintas di kawasan tersebut bisa menjadi problem bila tidak segera diselesaikan.
Serpong
Lonjakan harga juga terjadi di Serpong, Tangerang. Sejak munculnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 1989 silam, harga tanah dan properti di sini amat meroket. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD Idham Muchlis mengatakan, harga tanah dan properti BSD naik antara 15% hingga 20% per tahun. Dalam catatan Idham, pada 2004 silam harga tanah di BSD sekitar Rp 750.000 per m² dan bangunan sekitar Rp 2 juta per m². Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per m² dan harga bangunan sudah mencapai Rp 3,2 juta per m². Menurut Idham, lonjakan harga yang signifikan terjadi pada periode tahun 1995?1996 dan 2004?2006. “Bisa dibilang waktu itu booming properti, sehingga harga naik tinggi,” ujarnya. Selain BSD, harga tanah dan properti di Perumahan Alam Sutera juga meroket. Sejak berdiri 1994 silam, harga tanah di perumahan tetangga BSD ini naik 10% setiap tahun. “Meski naik, tapi harga tanah di Alam Sutera masih lebih murah dibanding daerah sekeliling,” ujar Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan. Hendra mengungkapkan, saat ini harga tanah dipatok Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Bandingkan dengan dua tahun lalu, kala harga tanah masih sekitar Rp 1,3 juta per m², dan setahun kemudian meningkat menjadi Rp 2,25 juta per m². “Itu harga tanah rumah hunian. Kalau yang komersial kenaikannya lebih besar,” ujar Hendra. Harga tanah komersial sekarang Rp 4,4 juta per m².
Padahal, pada 2007 lalu, harganya masih Rp 1,7 juta per m². Itu berarti ada kenaikan sebesar Rp 2,7 juta per m² dalam selang waktu tiga tahun. Salah satu penyebab harga tanah di proyek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini meroket lantaran adanya akses jalan tol sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Merak. Jalan tol ini juga memberikan akses ke Bandara Soekarno-Hatta. Salah seorang investor yang sudah merasakan nikmatnya berinvestasi di Serpong adalah Yolanda Hanneke. Pada 2000, ia menukarkan duit sebanyak Rp 190 juta dengan sebuah rumah tipe 160/140 di Alam Sutera. Ketika itu, ia mengeluarkan kocek tambahan Rp 50 juta untuk melakukan beberapa perbaikan. “Beberapa bulan lalu saya jual rumah itu seharga Rp 600 juta,” ujar Yolanda. Pengamat properti Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, kawasan Serpong pertama kali menjadi primadona sewaktu banjir besar melanda perumahan-perumahan di Jakarta pada beberapa tahun lalu. Selain bebas banjir, menurut Ali, tingginya permintaan lantaran lokasi sekitar Serpong sudah mulai jenuh. Cuma, Ali menilai, kenaikan harga properti di Serpong mulai melamban. Dalam hitungannya, kenaikan harga sepanjang tahun ini hanya sebesar 12%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, Ali mencatat kenaikan harga yang lebih besar, yakni dalam rentang 15% hingga 25%. Ali beralasan, penurunan ini terjadi karena kawasan Serpong sudah mulai padat. Alhasil, dia melihat banyak orang melirik kawasan di sekitarnya, seperti Sawangan, Bintaro, Pondok Cabe. “Apalagi ada potensi JORR 2 lewat situ,” jelas Ali.
Depok
Kawasan di sebelah selatan Ibukota ini bisa menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi properti. Soalnya, tersedia banyak infrastruktur untuk mengakses daerah ini. Iklim di daerah pinggiran Jakarta ini juga turut mendukung. Bila Jakarta panas lantaran padat penduduk, beberapa daerah Depok terbilang masih sejuk karena berbatasan dengan kaki Gunung Salak. Kini, daerah penyebaran perumahan kawasan Depok mulai dari kawasan Cimanggis, Sukmajaya, Sawangan, sampai Cinere. Salah satu pengembang di kawasan Depok adalah Grup Sinarmas. Grup ini tengah mengembangkan perumahan Telaga Golf Sawangan.Proyek perumahan seluas 100 hektare ini sudah berjalan sejak Februari 2000 lalu. “Saat ini total tanah yang terbangun sebesar 60% dari lahan keseluruhan,” ungkap Supervisor Pemasaran Telaga Golf Sawangan Agnes Kusumawardani. Soal potensi di masa mendatang, Agnes yakin bakal cerah. Argumen dia, pemerintah sudah merencanakan pembangunan jalan tol Depok-Antasari (Desari). Jarak pintu tol dengan perumahan ini terbilang dekat. “Kurang lebih sekitar 3 kilometer,” kata Agnes. Sejak berdiri, harga tanah dan properti di perumahan ini naik sekitar 10% per tahun. Agnes mengungkapkan, kenaikan tertinggi terjadi pada 2007 dan 2008 lalu akibat lonjakan harga material dan bahan bakar minyak (BBM). Sebagai gambaran, harga tanah pada 2007 silam sebesar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per m². Setahun berselang, harganya naik sedikit jadi Rp 900.000. Terakhir, harganya parkir di kisaran Rp 1,29 juta per m². Kenaikan harga tanah juga mengerek harga hunian. Sebagai contoh, harga rumah tipe 144/160 di kluster Sevilla naik dari Rp 450 juta pada 2007 lalu tahun ini menjadi Rp 600 juta. Sekarang, pengembang sedang asyik ketak-ketok proyek kluster teranyar, yakni North Espanola. Kluster ini menawarkan tiga tipe, antara lain Ibiza atau tipe 144/160. Perumahan lain di Depok adalah Permata Cimanggis. Harga tanah dan hunian di perumahan besutan Grup Permata ini melonjak sebesar 30% hingga 40% per tahun. Saat ini, harga tanah sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,7 juta per m².
Lalu, “Di masa mendatang, tentu punya potensi baik karena ada kabar pembangunan jalan tol Cinere?Jagorawi dan relokasi terminal Depok ke daerah tepat di belakang proyek perumahan,” ujar Supervisor Pemasaran Permata Cimanggis Taufan Hery Kuswanto. Proyek teranyar dari Permata Cimanggis, yakni kluster Mutiara, sudah berjalan sejak awal Oktober kemarin. Tipe yang ditawarkan di kluster Mutiara ini ada dua, yaitu tipe 45/84 dan tipe 45/90,dengan banderol harga berkisar antara Rp 250 juta hingga Rp 350 juta. Anton Sitorus memprediksi, potensi pertumbuhan properti di Depok masih bagus. “Karena Depok termasuk salah satu kawasan yang mengakomodasi wilayah Jakarta. Apalagi ditunjang adanya kereta api,” ujar Anton. Selain itu, prospek investasi properti di Depok sama baiknya dengan daerah pinggiran Jakarta lain seperti Serpong dan Cibubur. “Kenaikan harganya saya pikir bisa sekitar 10% per tahun,” jelas Anton.
Thursday, January 21, 2010
Property Prospects in 2010
I think it's a very good news for the beginning of year 2010. KPR interest is predicted to be lower in 2010...so that...the prospects for property might increase.
==================
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Rabu, 20/1/2010 | 18:00 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -
Prospek properti pada tahun 2010 sangat menjanjikan menyusul turunnya bunga kredit pemilikan rumah.
"Kalau melihat perkembangan ekonomi pada semester pertama peluang masih sangat bagus, apalagi dengan laju inflasi yang stabil," kata Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah S. Thaib di Jakarta, Rabu (20/1/10) dalam Seminar Outlook Properti & Economic 2010 yang diselenggarakan PT Bank BTN Tbk.
Hiramsyah memperkirakan pada semester I peluang untuk sektor hunian masih sangat besar terutama yang berlokasi di kota besar. "Prospek hunian ini sangat bergantung kepada ketersediaan KPR/ KPA setidaknya 25 persen kredit perbankan diperuntukkan bagi perumahan," ujar Hiramsyah.
Menurut Hiramsyah, pertimbangan membeli properti dapat diketahui dari permintaan segmen pasar, lokasi, risiko, serta strategi pendanaan atau mencari mitra kerja.
Garapan Kawasan Skala Besar
Hiramsyah menambahkan, tahun 2010 ini, PT Bakrieland Development Tbk berencana menggarap kawasan skala besar meski untuk lokasi belum bersedia dikemukakan. "Kami tidak fokus kepada pengembangan di Pulau Jawa saja tetapi juga di luar Jawa," katanya.
Hiramsyah mengatakan, dalam pengembangan kawasan rencananya Bakrieland akan menjalin kerjasama dengan pemilik lahan melalui pola joint venture. Menurutnya, terdapat tiga lokasi baru yang akan digarap pada tahun 2010 dengan total nilai investasi sekitar Rp 300 miliar.
Terkait dengan biaya investasi yang cukup besar meski hanya konstruksi, Hiramsyah mengatakan, untuk membangun kawasan membutuhkan waktu sampai lima tahun, tidak hanya satu dua-tahun saja, sehingga membutuhkan biaya besar. (Antara/KSP)
==================
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Rabu, 20/1/2010 | 18:00 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -
Prospek properti pada tahun 2010 sangat menjanjikan menyusul turunnya bunga kredit pemilikan rumah.
"Kalau melihat perkembangan ekonomi pada semester pertama peluang masih sangat bagus, apalagi dengan laju inflasi yang stabil," kata Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah S. Thaib di Jakarta, Rabu (20/1/10) dalam Seminar Outlook Properti & Economic 2010 yang diselenggarakan PT Bank BTN Tbk.
Hiramsyah memperkirakan pada semester I peluang untuk sektor hunian masih sangat besar terutama yang berlokasi di kota besar. "Prospek hunian ini sangat bergantung kepada ketersediaan KPR/ KPA setidaknya 25 persen kredit perbankan diperuntukkan bagi perumahan," ujar Hiramsyah.
Menurut Hiramsyah, pertimbangan membeli properti dapat diketahui dari permintaan segmen pasar, lokasi, risiko, serta strategi pendanaan atau mencari mitra kerja.
Garapan Kawasan Skala Besar
Hiramsyah menambahkan, tahun 2010 ini, PT Bakrieland Development Tbk berencana menggarap kawasan skala besar meski untuk lokasi belum bersedia dikemukakan. "Kami tidak fokus kepada pengembangan di Pulau Jawa saja tetapi juga di luar Jawa," katanya.
Hiramsyah mengatakan, dalam pengembangan kawasan rencananya Bakrieland akan menjalin kerjasama dengan pemilik lahan melalui pola joint venture. Menurutnya, terdapat tiga lokasi baru yang akan digarap pada tahun 2010 dengan total nilai investasi sekitar Rp 300 miliar.
Terkait dengan biaya investasi yang cukup besar meski hanya konstruksi, Hiramsyah mengatakan, untuk membangun kawasan membutuhkan waktu sampai lima tahun, tidak hanya satu dua-tahun saja, sehingga membutuhkan biaya besar. (Antara/KSP)
Thursday, January 14, 2010
Review Houses Complex in Cibubur Area
This review is quite new and done by indoroids/ Romy Satrio Wahono on website kotawisata.com/forum in Dec 2009.
Hope this will help us to get more information on housing complex in Cibubur before haviong decision to have a house there.
============
ANALISA LENGKAP HASIL PENGUKURAN
1.Green Park
Lokasinya bukan di Cibubur, tapi di sekitar 800 meter dari pintu tol Jati Warna (JORR). Menarik karena kedekatannya dengan tol dan juga jarak ke Jakarta cukup dekat. Perumahan baru yang mendapatkan penjualan tertinggi di Pameran Properti tahun 2007 (Jakarta Convention Center). Fasilitas masih belum banyak dibangun, baru berhasil membangun satu cluster. Banyak sekolah di sekitar lokasi, meskipun tidak di dalam kompleks.
Kompleks perumahan direncanakan hijau dan asri. Pembelian rumah perlu inden satu tahun. Ada beberapa isu yang muncul pada perumahan Green Park. Pertama masalah jalan depan kompleks yang tidak juga selesai sampai sekarang. Kegagalan membebaskan dua rumah penduduk yang letaknya di depan, cukup mengganggu pandangan, karena bentuk dan tipe rumah tidak serasi dengan rumah di Green Park. Isu lainnya beberapa kali Green Park didemo warga berhubungan dengan masalah saluran air yang kemungkinan membuat warga di luar Green Park kebanjiran. Satu masalah besar yang paling menyakitkan adalah harga. Harga naik setiap 3 minggu, dan saat ini tidak ada lagi rumah yang dijual dibawah Rp. 500 juta. Bahkan dengan luas bangunan dan tanah yang mirip, Green Park lebih mahal daripada Kota Wisata. Kemungkinan besar harga Green Park tinggi karena biaya pengurukan seluruh lahan di perumahan tersebut.
2.Cibubur Residence
Lokasi cukup dekat dengan tol cibubur. Pengembang sepertinya berkonsentrasi untuk menjadikan Cibubur Residence sebagai kompleks perumahan saja tanpa fasilitas pendukung. Dengan row jalan yang kecil, perumahan cukup berjejal, bahkan taman di setiap cluster dibuat hanya memanfaatkan ujung-ujung cluster yang tidak mungkin dijual. Pembelian rumah memerlukan inden sekitar 1 tahun dan harga sedang, tidak mahal dan tidak murah. Salah satu andalan perumahan Cibubur Residence adalah kedekatan dengan jalan tol. Bahkan kantor pemasaran dibuat seadanya dengan memanfaatkan rumah contoh di bagian paling depan, dekat dengan pintu masuk.
Banyak isu yang muncul di Internet tentang perumahan ini adalah masalah kualitas bangunan yang tidak seimbang dengan harga, misalnya pintu utama yang hanya menggunakan triplek tebal, dsb. Hasil dari survey lokasi dan Internet, secara nilai total, Cibubur Residence saya nilai paling rendah diantara lima perumahan yang saya review.
3.Raffles Hills
Perumahan elit, asri, fasilitas lengkap dan termasuk yang populer di Cibubur karena kedekatannya dengan pintu tol Cibubur. Isu penting dari Raffles Hills adalah keterjang tol JORR-2 yang membelah Raffles Hills menjadi dua bagian. Flyover tol akan mengakibatkan Raffles Hills berlubang sekitar 50 meter. Sebagian besar penghuni cluster yang keterjang tol JORR-2 sudah menerima biaya pembebasan lahan, sebagian pindah ke cluster baru (Spring Land dan Victory Land). Yang menarik dari Raffles Hills adalah adanya potongan harga 25% untuk semua rumah, plus tambahan potongan 10% lagi apabila kita membeli dengan tunai (cash).
Bahkan kalau kita mau rumah yang tusuk sate, ditambah ada potongan lagi 5% Sebagai tambahan informasi, akan dibangun sekolah internasional (Springfield International School) di dalam kompleks Raffles Hills. Secara total penilaian menduduki peringkat kedua setelah Kota Wisata. Nilai terangkat karena masalah harga, kedekatan dengan tol dan row jalan yang lebar.
4.Kota Wisata
Kota Wisata memiliki fasilitas terlengkap, lingkungan indah, asri dengan row jalan yang sangat lebar, baik untuk boulevard utama, kedua maupun jalan di dalam cluster. Untuk orang yang tidak banyak gerak atau keluar ke Jakarta, Kota Wisata termasuk pilihan terbaik. Semua sudah tersedia di dalam kompleks, untuk urusan sekolah ada Fajar Hidayah (TK-SD-SMP-SMA), untuk urusan belanja juga lengkap, bahkan ada pasar modern yang menyediakan makanan fresh, untuk rekreasi ada kampung wisata, fantasy island, dsb.
Convenience store semacam indomart dan alfamart juga betebaran di banyak ruko. Mau service mobil ada automotive center. Intinya kalau sudah di dalam, tidak perlu ke mana mana lagi, semua sudah tersedia. Cluster baru yang tersedia adalah Coatesville dan Hacienda Heights, dengan jenis rumah inden atau siap huni. Posisi Kota Wisata 7 km dari pintu tol Cibubur, relatif agak jauh. Harga yang ditawarkan relatif tinggi, meskipun tidak setinggi Green Park. Isu yang muncul adalah masalah jalan tol JORR-2 yang akan menerjang cluster montreal dan sekitarnya. Apabila tol akan mengikuti jalur pipa gas, maka yang akan diterjang oleh tol JORR-2 adalah wilayah cluster terdepan dari Kota Wisata. Isu lainnya adalah masalah bau sampah dari TPA bantar gebang yang kadang tertiup angin memasuki wilayah kota wisata, meskipun secara lokasi sebenarnya sangat jauh ke TPA bantar gebang. Total skor untuk Kota Wisata adalah yang paling tinggi diantara lima kompleks perumahan yang saya survey.
5.Citra Grand
Keunggulan dari Citra Grand adalah harga yang relatif murah dibandingkan dengan perumahan lain. Fasilitas cukup lengkap dengan tambahan keunggulan adanya mal citra grand. Jalanan boulevard utama dan pintu masuk yang kecil adalah hal yang paling tidak saya sukai dari Citra Grand. Isu yang muncul dari Citra Grand adalah masalah pengaturan biaya bulanan (sampah, keamanan, dan listrik) oleh pengembang yang terlalu tinggi. Masalah tol, kemungkinan pintu tol JORR-2 akan ada di depan pintu gerbang Citra Grand, isu ini menarik bagi yang banyak menggunakan tol. Tidak ada rumah siap huni, semua pembelian sistem inden sekitar 1 tahun. Secara total penilaian, Citra Grand relatif mirip dengan Green Park, meskipun tidak secara skala perumahan, karena Citra Grand jauh lebih besar dengan banyak cluster didalamnya.
KESIMPULAN
Bagaimanapun juga penilaian perumahan tetap sulit untuk obyektif, meskipun sudah diusahakan seobyektif mungkin Meskipun tidak sempurna, anggap saja review yang saya buat adalah salah satu referensi bagi yang berencana memiliki rumah di sekitar Jati Warna dan Cibubur. Insya Allah lain waktu akan saya sajikan review mendetail untuk perumahan lain. Bagaimanapun juga, rumah ideal adalah rumah impian, kadang sulit kita dapatkan hingga sering kita lupakan.
Tapi mudah-mudahan tetap selalu kita perdjoeangkan, karena memang mimpi datang untuk diperdjoeangkan
Hope this will help us to get more information on housing complex in Cibubur before haviong decision to have a house there.
============
ANALISA LENGKAP HASIL PENGUKURAN
1.Green Park
Lokasinya bukan di Cibubur, tapi di sekitar 800 meter dari pintu tol Jati Warna (JORR). Menarik karena kedekatannya dengan tol dan juga jarak ke Jakarta cukup dekat. Perumahan baru yang mendapatkan penjualan tertinggi di Pameran Properti tahun 2007 (Jakarta Convention Center). Fasilitas masih belum banyak dibangun, baru berhasil membangun satu cluster. Banyak sekolah di sekitar lokasi, meskipun tidak di dalam kompleks.
Kompleks perumahan direncanakan hijau dan asri. Pembelian rumah perlu inden satu tahun. Ada beberapa isu yang muncul pada perumahan Green Park. Pertama masalah jalan depan kompleks yang tidak juga selesai sampai sekarang. Kegagalan membebaskan dua rumah penduduk yang letaknya di depan, cukup mengganggu pandangan, karena bentuk dan tipe rumah tidak serasi dengan rumah di Green Park. Isu lainnya beberapa kali Green Park didemo warga berhubungan dengan masalah saluran air yang kemungkinan membuat warga di luar Green Park kebanjiran. Satu masalah besar yang paling menyakitkan adalah harga. Harga naik setiap 3 minggu, dan saat ini tidak ada lagi rumah yang dijual dibawah Rp. 500 juta. Bahkan dengan luas bangunan dan tanah yang mirip, Green Park lebih mahal daripada Kota Wisata. Kemungkinan besar harga Green Park tinggi karena biaya pengurukan seluruh lahan di perumahan tersebut.
2.Cibubur Residence
Lokasi cukup dekat dengan tol cibubur. Pengembang sepertinya berkonsentrasi untuk menjadikan Cibubur Residence sebagai kompleks perumahan saja tanpa fasilitas pendukung. Dengan row jalan yang kecil, perumahan cukup berjejal, bahkan taman di setiap cluster dibuat hanya memanfaatkan ujung-ujung cluster yang tidak mungkin dijual. Pembelian rumah memerlukan inden sekitar 1 tahun dan harga sedang, tidak mahal dan tidak murah. Salah satu andalan perumahan Cibubur Residence adalah kedekatan dengan jalan tol. Bahkan kantor pemasaran dibuat seadanya dengan memanfaatkan rumah contoh di bagian paling depan, dekat dengan pintu masuk.
Banyak isu yang muncul di Internet tentang perumahan ini adalah masalah kualitas bangunan yang tidak seimbang dengan harga, misalnya pintu utama yang hanya menggunakan triplek tebal, dsb. Hasil dari survey lokasi dan Internet, secara nilai total, Cibubur Residence saya nilai paling rendah diantara lima perumahan yang saya review.
3.Raffles Hills
Perumahan elit, asri, fasilitas lengkap dan termasuk yang populer di Cibubur karena kedekatannya dengan pintu tol Cibubur. Isu penting dari Raffles Hills adalah keterjang tol JORR-2 yang membelah Raffles Hills menjadi dua bagian. Flyover tol akan mengakibatkan Raffles Hills berlubang sekitar 50 meter. Sebagian besar penghuni cluster yang keterjang tol JORR-2 sudah menerima biaya pembebasan lahan, sebagian pindah ke cluster baru (Spring Land dan Victory Land). Yang menarik dari Raffles Hills adalah adanya potongan harga 25% untuk semua rumah, plus tambahan potongan 10% lagi apabila kita membeli dengan tunai (cash).
4.Kota Wisata
Kota Wisata memiliki fasilitas terlengkap, lingkungan indah, asri dengan row jalan yang sangat lebar, baik untuk boulevard utama, kedua maupun jalan di dalam cluster. Untuk orang yang tidak banyak gerak atau keluar ke Jakarta, Kota Wisata termasuk pilihan terbaik. Semua sudah tersedia di dalam kompleks, untuk urusan sekolah ada Fajar Hidayah (TK-SD-SMP-SMA), untuk urusan belanja juga lengkap, bahkan ada pasar modern yang menyediakan makanan fresh, untuk rekreasi ada kampung wisata, fantasy island, dsb.
Convenience store semacam indomart dan alfamart juga betebaran di banyak ruko. Mau service mobil ada automotive center. Intinya kalau sudah di dalam, tidak perlu ke mana mana lagi, semua sudah tersedia. Cluster baru yang tersedia adalah Coatesville dan Hacienda Heights, dengan jenis rumah inden atau siap huni. Posisi Kota Wisata 7 km dari pintu tol Cibubur, relatif agak jauh. Harga yang ditawarkan relatif tinggi, meskipun tidak setinggi Green Park. Isu yang muncul adalah masalah jalan tol JORR-2 yang akan menerjang cluster montreal dan sekitarnya. Apabila tol akan mengikuti jalur pipa gas, maka yang akan diterjang oleh tol JORR-2 adalah wilayah cluster terdepan dari Kota Wisata. Isu lainnya adalah masalah bau sampah dari TPA bantar gebang yang kadang tertiup angin memasuki wilayah kota wisata, meskipun secara lokasi sebenarnya sangat jauh ke TPA bantar gebang. Total skor untuk Kota Wisata adalah yang paling tinggi diantara lima kompleks perumahan yang saya survey.
5.Citra Grand
Keunggulan dari Citra Grand adalah harga yang relatif murah dibandingkan dengan perumahan lain. Fasilitas cukup lengkap dengan tambahan keunggulan adanya mal citra grand. Jalanan boulevard utama dan pintu masuk yang kecil adalah hal yang paling tidak saya sukai dari Citra Grand. Isu yang muncul dari Citra Grand adalah masalah pengaturan biaya bulanan (sampah, keamanan, dan listrik) oleh pengembang yang terlalu tinggi. Masalah tol, kemungkinan pintu tol JORR-2 akan ada di depan pintu gerbang Citra Grand, isu ini menarik bagi yang banyak menggunakan tol. Tidak ada rumah siap huni, semua pembelian sistem inden sekitar 1 tahun. Secara total penilaian, Citra Grand relatif mirip dengan Green Park, meskipun tidak secara skala perumahan, karena Citra Grand jauh lebih besar dengan banyak cluster didalamnya.
KESIMPULAN
Bagaimanapun juga penilaian perumahan tetap sulit untuk obyektif, meskipun sudah diusahakan seobyektif mungkin Meskipun tidak sempurna, anggap saja review yang saya buat adalah salah satu referensi bagi yang berencana memiliki rumah di sekitar Jati Warna dan Cibubur. Insya Allah lain waktu akan saya sajikan review mendetail untuk perumahan lain. Bagaimanapun juga, rumah ideal adalah rumah impian, kadang sulit kita dapatkan hingga sering kita lupakan.
Tapi mudah-mudahan tetap selalu kita perdjoeangkan, karena memang mimpi datang untuk diperdjoeangkan
Toll Road in India compare to Indonesia
Well... It is very very sad to read this articles, regarding the toll road in India. In India they manage to build 20 Km toll road a day, compare to Indonesia which is juat able to build 6 km a day (which I doubt).
JORR 2 which consist of toll road in Cibubur has not been realized until today, as we know the project has been started (the concept) since the year of 2000.
We are talking about toll road in Jakarta and we have not yet talked about tollroad outside Jakarta.
Anyway here is the article from Kompas 13 Jan 2010
=======
Pembangunan Tol Jalan di Tempat
KOMPAS/LASTI KURNIA
Pekerja menyelesaikan proyek jalan tol lingkar luar di kawasan Daan Mogot, Jakarta, Senin (15/6). Proyek infrastruktur selain diperlukan sebagai daya tarik masuknya investasi, juga menjadi tempat menampung tenaga kerja. Sayangnya, APBN tahun ini memangkas anggaran untuk infrastruktur.
Rabu, 13/1/2010 | 16:27 WIB
oleh Haryo Damardono
Menteri Transportasi Jalan dan Jalan Bebas Hambatan India Kamal Nath menjanjikan akan membangun jalan baru sepanjang 20 kilometer dalam sehari. Artinya, India ibaratnya hanya butuh waktu sekitar tujuh hari untuk membangun jalan tol Jakarta-Bandung.
Padahal, Kamal Nath belum setahun menjabat Menteri Transportasi Jalan. Mei 2009, saat dia mulai memerintah, India baru membangun 2 km jalan per hari. "Hari ini menjadi 9 km jalan per hari. ”Dan, April 2010, pertambahan jalan pasti 20 kilometer per hari,” ujarnya.
India luar biasa. The Golden Quadrilateral—empat lajur jalan bebas hambatan penghubung Delhi, Mumbai, Chennai, dan Kalkuta, sepanjang 5.846 km—telah selesai dibangun. Dana pembangunan Rp 68 triliun berasal dari pajak bensin dan kendaraan serta pinjaman pemerintah.
Hingga akhir tahun ini, lebih dari 50 persen koridor jalan bebas hambatan dengan jalur utara-selatan dan barat-timur India juga telah terbangun. Untuk proyek itu, telah habis dana sebesar Rp 80 triliun, yang berasal dari pajak bensin dan kendaraan serta pinjaman pemerintah.
The Golden Quadrilateral dan Koridor Utara-Selatan Barat-Timur dikenal sebagai National Highway Development Program (NHDP) tahap I dan II.
Adapun NHDP tahap III adalah 12.109 km jalan bebas hambatan. NHDP III tidak lagi didanai pajak atau pemerintah, sebaliknya pola build, operate, and transfer. Investor diminta membangun jalan itu.
Untuk kebutuhan pendanaan NHDP III, Nath bertemu India-America Chamber of Commerce di New York, September 2009, lalu ke Malaysia bulan Januari 2010. Nath berkelana untuk ”menjual” India. UU Infrastruktur India sangat liberal, kepemilikan asing boleh 100 persen dalam proyek jalan.
Janji Nath juga menggema di Indonesia seiring tulisan di harian ini. Komentar muncul mulai dari birokrat, akademisi, hingga masyarakat umum. Keterkejutan adalah reaksi yang umum.
China telah diketahui mampu membangun 24 km jalan per hari dan India berjanji membangun 20 km per hari. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia 6 km per hari
Untuk mengetahui prestasi pembangunan jalan baru di Indonesia, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak merefleksikan prestasi lima tahun terakhir.
”Dalam lima tahun, kita berhasil membangun 11.000 km lajur baru,” ungkap Hermanto.
Jalan sepanjang 11.000 km itu, ujar Hermanto, tidak selalu rute jalan baru, tetapi juga penambahan lajur dari dua menjadi empat. Jika dihitung, penambahan jalan ternyata hanya sekitar 6 km per hari.
Supaya lebih banyak jalan terbangun, awalnya diandalkan dana preservasi jalan. Singkatnya, pemeliharaan jalan menggunakan dana preservasi dari pajak kendaraan dan pajak bahan bakar. Sementara pembangunan jalan baru dari APBN dan APBD.
Melalui dana preservasi jalan, sesungguhnya masyarakat dididik bertanggung jawab memelihara jalan. Barangsiapa sering menggunakan jalan, harus membayar pajak untuk jalan lebih mahal untuk biaya pemeliharaan jalan.
Akan tetapi, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah hanya mengatur paling sedikit 10 persen dari pajak atas kendaraan bermotor untuk pemeliharaan jalan atau transportasi umum.
Direktur Bina Program Ditjen Bina Marga Kementerian PU Taufik Widjoyono menjelaskan, ”Dalam draf Perpres Dana Preservasi Jalan, sebagian dana pemeliharaan jalan tetap dari APBN dan APBD.”
Padahal, seharusnya dana preservasi jalan mampu dioptimalkan. Anggaran Bina Marga sebesar Rp 16,5 triliun sepenuhnya untuk pembangunan jalan. Tidak lagi terpecah untuk pemeliharaan jalan.
Dampaknya lebih dalam lagi, pertambahan jalan di Indonesia kalah dari China dan India. Dengan demikian, daya saing ekonomi Indonesia berpotensi makin terpuruk daripada dua negara itu. Biaya transportasi pun tinggi karena rasio jalan rendah.
Lebih menyedihkan
Dibandingkan dengan India dan China, pembangunan tol di Indonesia lebih menyedihkan lagi. Dalam lima tahun hingga 2014, Indonesia hanya menargetkan 800 km jalan tol.
Kalau di India, pembangunan jalan tol dari Cawang hingga Cibinong bisa dibangun dalam sehari. Di Indonesia, butuh waktu sangat lama.
Investor jalan tol yang memenangi tender pada akhir 1990-an sering kali tidak mempunyai uang sehingga pembangunan proyek tol menjadi lamban.
Namun, pemerintah takut memutus kontrak jalan tol. Ironisnya, ketika pemerintah mengerjakan sendiri Jalan Tol Solo-Ngawi-Kertosono dengan dana pembebasan lahan dari APBN, proyek itu juga tersendat-sendat.
Alasannya, anggaran dari APBN juga seret (Kompas, 20 Agustus 2009). Padahal, jika lahan tol itu dibebaskan dengan cepat, sudah ada investor dari Australia yang siap membangun konstruksinya.
Singkat kata, pemerintah memberikan teladan buruk dalam menyelesaikan proyek tol yang dibangunnya sendiri. Akses Tol Tanjung Priok, misalnya, juga lambat dibangun pemerintah.
Padahal, buruknya akses jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok dikeluhkan oleh banyak pihak sejak lama.
Seandainya Nath menjadi Menteri Pekerjaan Umum di Indonesia? Kemungkinan dia pun harus sibuk untuk melobi antarinstansi untuk menuntaskan regulasi pembebasan lahan.
Setelah itu, baru dia bisa road show ke luar negeri untuk menawarkan proyek jalan tol di Indonesia. Di India, para pejabat terbiasa naik mobil kuno Ambassador.
Berbeda dengan di Indonesia, para pejabat publik umumnya menggunakan mobil mewah sehingga tidak bisa merasakan kondisi jalan yang sesungguhnya.
Seandainya Pemerintah Indonesia bisa mengangkat menteri dengan kualifikasi seperti Nath, barangkali Jalan Tol Jakarta-Surabaya bisa dibangun hanya dalam waktu 2,5 bulan.
JORR 2 which consist of toll road in Cibubur has not been realized until today, as we know the project has been started (the concept) since the year of 2000.
We are talking about toll road in Jakarta and we have not yet talked about tollroad outside Jakarta.
Anyway here is the article from Kompas 13 Jan 2010
=======
Pembangunan Tol Jalan di Tempat
KOMPAS/LASTI KURNIA
Pekerja menyelesaikan proyek jalan tol lingkar luar di kawasan Daan Mogot, Jakarta, Senin (15/6). Proyek infrastruktur selain diperlukan sebagai daya tarik masuknya investasi, juga menjadi tempat menampung tenaga kerja. Sayangnya, APBN tahun ini memangkas anggaran untuk infrastruktur.
Rabu, 13/1/2010 | 16:27 WIB
oleh Haryo Damardono
Menteri Transportasi Jalan dan Jalan Bebas Hambatan India Kamal Nath menjanjikan akan membangun jalan baru sepanjang 20 kilometer dalam sehari. Artinya, India ibaratnya hanya butuh waktu sekitar tujuh hari untuk membangun jalan tol Jakarta-Bandung.
Padahal, Kamal Nath belum setahun menjabat Menteri Transportasi Jalan. Mei 2009, saat dia mulai memerintah, India baru membangun 2 km jalan per hari. "Hari ini menjadi 9 km jalan per hari. ”Dan, April 2010, pertambahan jalan pasti 20 kilometer per hari,” ujarnya.
India luar biasa. The Golden Quadrilateral—empat lajur jalan bebas hambatan penghubung Delhi, Mumbai, Chennai, dan Kalkuta, sepanjang 5.846 km—telah selesai dibangun. Dana pembangunan Rp 68 triliun berasal dari pajak bensin dan kendaraan serta pinjaman pemerintah.
Hingga akhir tahun ini, lebih dari 50 persen koridor jalan bebas hambatan dengan jalur utara-selatan dan barat-timur India juga telah terbangun. Untuk proyek itu, telah habis dana sebesar Rp 80 triliun, yang berasal dari pajak bensin dan kendaraan serta pinjaman pemerintah.
The Golden Quadrilateral dan Koridor Utara-Selatan Barat-Timur dikenal sebagai National Highway Development Program (NHDP) tahap I dan II.
Adapun NHDP tahap III adalah 12.109 km jalan bebas hambatan. NHDP III tidak lagi didanai pajak atau pemerintah, sebaliknya pola build, operate, and transfer. Investor diminta membangun jalan itu.
Untuk kebutuhan pendanaan NHDP III, Nath bertemu India-America Chamber of Commerce di New York, September 2009, lalu ke Malaysia bulan Januari 2010. Nath berkelana untuk ”menjual” India. UU Infrastruktur India sangat liberal, kepemilikan asing boleh 100 persen dalam proyek jalan.
Janji Nath juga menggema di Indonesia seiring tulisan di harian ini. Komentar muncul mulai dari birokrat, akademisi, hingga masyarakat umum. Keterkejutan adalah reaksi yang umum.
China telah diketahui mampu membangun 24 km jalan per hari dan India berjanji membangun 20 km per hari. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia 6 km per hari
Untuk mengetahui prestasi pembangunan jalan baru di Indonesia, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak merefleksikan prestasi lima tahun terakhir.
”Dalam lima tahun, kita berhasil membangun 11.000 km lajur baru,” ungkap Hermanto.
Jalan sepanjang 11.000 km itu, ujar Hermanto, tidak selalu rute jalan baru, tetapi juga penambahan lajur dari dua menjadi empat. Jika dihitung, penambahan jalan ternyata hanya sekitar 6 km per hari.
Supaya lebih banyak jalan terbangun, awalnya diandalkan dana preservasi jalan. Singkatnya, pemeliharaan jalan menggunakan dana preservasi dari pajak kendaraan dan pajak bahan bakar. Sementara pembangunan jalan baru dari APBN dan APBD.
Melalui dana preservasi jalan, sesungguhnya masyarakat dididik bertanggung jawab memelihara jalan. Barangsiapa sering menggunakan jalan, harus membayar pajak untuk jalan lebih mahal untuk biaya pemeliharaan jalan.
Akan tetapi, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah hanya mengatur paling sedikit 10 persen dari pajak atas kendaraan bermotor untuk pemeliharaan jalan atau transportasi umum.
Direktur Bina Program Ditjen Bina Marga Kementerian PU Taufik Widjoyono menjelaskan, ”Dalam draf Perpres Dana Preservasi Jalan, sebagian dana pemeliharaan jalan tetap dari APBN dan APBD.”
Padahal, seharusnya dana preservasi jalan mampu dioptimalkan. Anggaran Bina Marga sebesar Rp 16,5 triliun sepenuhnya untuk pembangunan jalan. Tidak lagi terpecah untuk pemeliharaan jalan.
Dampaknya lebih dalam lagi, pertambahan jalan di Indonesia kalah dari China dan India. Dengan demikian, daya saing ekonomi Indonesia berpotensi makin terpuruk daripada dua negara itu. Biaya transportasi pun tinggi karena rasio jalan rendah.
Lebih menyedihkan
Dibandingkan dengan India dan China, pembangunan tol di Indonesia lebih menyedihkan lagi. Dalam lima tahun hingga 2014, Indonesia hanya menargetkan 800 km jalan tol.
Kalau di India, pembangunan jalan tol dari Cawang hingga Cibinong bisa dibangun dalam sehari. Di Indonesia, butuh waktu sangat lama.
Investor jalan tol yang memenangi tender pada akhir 1990-an sering kali tidak mempunyai uang sehingga pembangunan proyek tol menjadi lamban.
Namun, pemerintah takut memutus kontrak jalan tol. Ironisnya, ketika pemerintah mengerjakan sendiri Jalan Tol Solo-Ngawi-Kertosono dengan dana pembebasan lahan dari APBN, proyek itu juga tersendat-sendat.
Alasannya, anggaran dari APBN juga seret (Kompas, 20 Agustus 2009). Padahal, jika lahan tol itu dibebaskan dengan cepat, sudah ada investor dari Australia yang siap membangun konstruksinya.
Singkat kata, pemerintah memberikan teladan buruk dalam menyelesaikan proyek tol yang dibangunnya sendiri. Akses Tol Tanjung Priok, misalnya, juga lambat dibangun pemerintah.
Padahal, buruknya akses jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok dikeluhkan oleh banyak pihak sejak lama.
Seandainya Nath menjadi Menteri Pekerjaan Umum di Indonesia? Kemungkinan dia pun harus sibuk untuk melobi antarinstansi untuk menuntaskan regulasi pembebasan lahan.
Setelah itu, baru dia bisa road show ke luar negeri untuk menawarkan proyek jalan tol di Indonesia. Di India, para pejabat terbiasa naik mobil kuno Ambassador.
Berbeda dengan di Indonesia, para pejabat publik umumnya menggunakan mobil mewah sehingga tidak bisa merasakan kondisi jalan yang sesungguhnya.
Seandainya Pemerintah Indonesia bisa mengangkat menteri dengan kualifikasi seperti Nath, barangkali Jalan Tol Jakarta-Surabaya bisa dibangun hanya dalam waktu 2,5 bulan.
Wednesday, December 16, 2009
Cibubur, Oase di Tengah Keramaian
Cibubur, Oase di Tengah Keramaian
Minggu, 13 Desember 2009 | 10:28 WIB
KOMPAS.com — Nama Cibubur selalu dikaitkan dengan bumi perkemahan yang pada masa sebelum Reformasi tidak pernah sepi dari kegiatan Pramuka. Kini setelah Pramuka tidak lagi bergairah, kawasan hijau seluas 210 hektar ini mencoba bertahan di tengah gempuran kapitalisme.
Bagi orang yang pernah aktif dalam kegiatan Pramuka, Cibubur selalu menyimpan kenangan tersendiri. Harjanto (42), warga Joglo, Jakarta Barat, yang aktif ikut Pramuka ketika masih remaja, mengenang Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur sebagai tempat melatih keterampilan bertahan hidup di alam terbuka.
”Rasanya benar-benar seperti sedang berada di tengah hutan,” kata Harjanto. Untuk makan, ia dan teman-teman Pramuka memasak sendiri di tungku parafin atau kayu bakar.
Kini Bumi Perkemahan dikepung permukiman dan pusat bisnis. Anggota Pramuka yang berkemah di Cibubur tidak lagi memasak sendiri makanannya di atas tungku parafin atau kayu bakar seperti Harjanto. Mereka memilih memesan ayam goreng atau burger dari restoran cepat saji di sekitar Buperta.
Dilirik investor
Bumi Perkemahan Cibubur ibarat oase di tengah padatnya pembangunan permukiman di Cibubur. Kawasan hijau yang dibuka pada pertengahan tahun 1970-an ini sampai sekarang masih rimbun dengan pepohonan. Di dalam kawasan, danau seluas 8 hektar terpelihara baik, tampak bersih dari sampah. Buperta memang ingin dipertahankan sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.
Dari luas 210 hektar, lahan seluas 80 hektar, zona inti, digunakan sebagai tempat perkemahan dan sisanya sebagai zona penyangga, digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kawasan penghijauan, wisma, aula, serta fasilitas rekreasi dan olahraga.
Seiring dengan perkembangan kota, Buperta mulai dilirik investor untuk permukiman atau pusat bisnis karena letaknya persis di pinggir pintu tol. Salah satu pengembang yang sempat menandatangani kontrak kerja sama dengan pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka adalah PT Prima Olahdaya, perusahaan milik Robby Sugita, pengusaha pemilik pusat perbelanjaan International Trade Centre (ITC) Mangga Dua, Jakarta Utara (Kompas, 9/10/2006). Kerja sama itu menuai protes banyak pihak dan sampai sekarang belum ada kejelasan kelanjutan kerja sama itu.
Selain diincar investor, lahan bumi perkemahan juga menjadi sasaran okupasi warga. Menurut Staf Khusus Buperta Richard El Toelle, sebelum Buperta dikelilingi pagar, warga sekitar sering menempati lahan Buperta tanpa izin. ”Mereka pelan-pelan membangun rumah atau warung dengan melewati batas kepemilikan lahan. Sekarang sudah ditertibkan,” kata Richard.
Bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, Buperta menjadi salah satu tempat melepas ketegangan di tengah impitan kota. Pada akhir pekan, banyak keluarga muda membawa anak-anak berkemah di pinggir danau di belakang kantor pengelola Buperta. Pengelola Buperta menyediakan tenda dengan sewa Rp 70.000-Rp 200.000 per tenda dan untuk yang sekadar ingin jalan-jalan cukup membayar karcis masuk Rp 3.000-Rp 5.000 per orang.
Minggu, 13 Desember 2009 | 10:28 WIB
KOMPAS.com — Nama Cibubur selalu dikaitkan dengan bumi perkemahan yang pada masa sebelum Reformasi tidak pernah sepi dari kegiatan Pramuka. Kini setelah Pramuka tidak lagi bergairah, kawasan hijau seluas 210 hektar ini mencoba bertahan di tengah gempuran kapitalisme.
Bagi orang yang pernah aktif dalam kegiatan Pramuka, Cibubur selalu menyimpan kenangan tersendiri. Harjanto (42), warga Joglo, Jakarta Barat, yang aktif ikut Pramuka ketika masih remaja, mengenang Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur sebagai tempat melatih keterampilan bertahan hidup di alam terbuka.
”Rasanya benar-benar seperti sedang berada di tengah hutan,” kata Harjanto. Untuk makan, ia dan teman-teman Pramuka memasak sendiri di tungku parafin atau kayu bakar.
Kini Bumi Perkemahan dikepung permukiman dan pusat bisnis. Anggota Pramuka yang berkemah di Cibubur tidak lagi memasak sendiri makanannya di atas tungku parafin atau kayu bakar seperti Harjanto. Mereka memilih memesan ayam goreng atau burger dari restoran cepat saji di sekitar Buperta.
Dilirik investor
Bumi Perkemahan Cibubur ibarat oase di tengah padatnya pembangunan permukiman di Cibubur. Kawasan hijau yang dibuka pada pertengahan tahun 1970-an ini sampai sekarang masih rimbun dengan pepohonan. Di dalam kawasan, danau seluas 8 hektar terpelihara baik, tampak bersih dari sampah. Buperta memang ingin dipertahankan sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.
Dari luas 210 hektar, lahan seluas 80 hektar, zona inti, digunakan sebagai tempat perkemahan dan sisanya sebagai zona penyangga, digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kawasan penghijauan, wisma, aula, serta fasilitas rekreasi dan olahraga.
Seiring dengan perkembangan kota, Buperta mulai dilirik investor untuk permukiman atau pusat bisnis karena letaknya persis di pinggir pintu tol. Salah satu pengembang yang sempat menandatangani kontrak kerja sama dengan pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka adalah PT Prima Olahdaya, perusahaan milik Robby Sugita, pengusaha pemilik pusat perbelanjaan International Trade Centre (ITC) Mangga Dua, Jakarta Utara (Kompas, 9/10/2006). Kerja sama itu menuai protes banyak pihak dan sampai sekarang belum ada kejelasan kelanjutan kerja sama itu.
Selain diincar investor, lahan bumi perkemahan juga menjadi sasaran okupasi warga. Menurut Staf Khusus Buperta Richard El Toelle, sebelum Buperta dikelilingi pagar, warga sekitar sering menempati lahan Buperta tanpa izin. ”Mereka pelan-pelan membangun rumah atau warung dengan melewati batas kepemilikan lahan. Sekarang sudah ditertibkan,” kata Richard.
Bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, Buperta menjadi salah satu tempat melepas ketegangan di tengah impitan kota. Pada akhir pekan, banyak keluarga muda membawa anak-anak berkemah di pinggir danau di belakang kantor pengelola Buperta. Pengelola Buperta menyediakan tenda dengan sewa Rp 70.000-Rp 200.000 per tenda dan untuk yang sekadar ingin jalan-jalan cukup membayar karcis masuk Rp 3.000-Rp 5.000 per orang.
Cibubur, Kota Tanpa Rencana
From the author
The article from Kompas remind us that many things happened when one area is developed. Unclear plan and synergy between many institutions sometimes forget about the environment. Traffic is worse in Cibubur, the article below is an alarm for all of us who live in Cibubur to make Cibubur in the future a better place for live and work and play.
========================
Minggu, 13 Desember 2009 | 12:07 WIB
Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, dan Lusiana Indriasari
KOMPAS.com - Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula?
Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja.
Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan toko 24 jam Circle K.
Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo, dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center.
Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintang di atas jalan.
Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat pertigaan Jalan Taman Bunga.
Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar ke wilayah sekitar.
Macet
Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang tinggal di Cibubur sejak tahun 1985.
Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi. Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan perumahan.
Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. ”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya.
Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.
Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi.
Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya.
Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.
Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. ”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief Bagus (30), warga Cibubur.
Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yang ada di depan pasar terlalu kecil.”
Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. ”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya.
Tanpa rencana
Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.
Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur.
Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka hijau.
Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke Jakarta. ”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat.
Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,” tandas Yayat.
The article from Kompas remind us that many things happened when one area is developed. Unclear plan and synergy between many institutions sometimes forget about the environment. Traffic is worse in Cibubur, the article below is an alarm for all of us who live in Cibubur to make Cibubur in the future a better place for live and work and play.
========================
Minggu, 13 Desember 2009 | 12:07 WIB
Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, dan Lusiana Indriasari
KOMPAS.com - Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula?
Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja.
Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan toko 24 jam Circle K.
Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo, dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center.
Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintang di atas jalan.
Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat pertigaan Jalan Taman Bunga.
Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar ke wilayah sekitar.
Macet
Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang tinggal di Cibubur sejak tahun 1985.
Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi. Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan perumahan.
Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. ”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya.
Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.
Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi.
Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya.
Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.
Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. ”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief Bagus (30), warga Cibubur.
Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yang ada di depan pasar terlalu kecil.”
Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. ”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya.
Tanpa rencana
Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.
Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur.
Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka hijau.
Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke Jakarta. ”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat.
Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,” tandas Yayat.
Monday, December 14, 2009
Cibubur Tempo Dulu, Sejuk dan Sepi
Minggu, 13 Desember 2009 | 02:37 WIB, Kompas.com
Warung Pak Dul di Kampung Kalimanggis, Kelurahan Jati Karya, Bekasi. Kalau bertanya pada Tusiran tentang nama jalan tempat Warung Pak Dul berada, dia akan menjawab Jalan Trans-Yogie, sama seperti kalau kita bertanya kepada orang-orang yang sudah sangat lama tinggal di Cibubur.
Karena belum banyak perumahan seperti sekarang, kondisi lalu lintas di Jalan Raya Alternatif Cibubur masih sepi. Kendaraan umum pun hanya dua jurusan saja.
”Dulu yang banyak di sini anjing liar. Anjing-anjing itu sampai memangsa kambing saya. Waktu saya cari, bekasnya ada di tengah sawah. Suasana di sini cukup seram, apalagi dekat sini ada kuburan,” kata Tusiran.
Sepi hiburan
Andong Begawan, yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak selama 20-an tahun, mengatakan, daerah tempat tinggalnya rawan maling. Padahal, lokasinya berdekatan dengan kompleks perumahan dan lapangan latihan tembak. Dari sinilah jalan tersebut kemudian diberi nama Jalan Lapangan Tembak.
Sepinya Cibubur dulu membuat tidak ada tempat hiburan di situ. Satu-satunya sarana hiburan yang menjadi andalan, menurut pedagang buah di sekitar pasar Cibubur Syarif (37), adalah layar tancap saat ada yang menggelar hajatan. Kalau mau ke bioskop, pilihannya adalah ke Cisalak atau Cijantung.
”Saya ingat, dulu nonton film Superman di Bioskop Peralon di Cijantung. Dikasih nama Peralon karena memang bekas pabrik pipa peralon,” kata Andong.
Meski seram, Cibubur tempo dulu adalah lingkungan yang nyaman untuk ditempati. Ini karena masih banyak pepohonan sehingga membuat udara menjadi sejuk. Maklum, sebagian lahan di sana masih dipenuhi kebun karet. ”Udara dingin bisa saya rasakan setiap kali bangun tidur. Sekitar tahun 1980-an hingga awal 1990-an, air tanah di Cibubur masih dingin,” kata Rossy Nahissa, penghuni Jalan Lapangan Tembak.
Nindeng (60), warga Kampung Pondok Rangon, yang masuk wilayah Depok, masih ingat betul bagaimana Cibubur tahun 1960-an. Cibubur saat itu sangat hijau royo-royo. Udaranya sejuk dan dingin. Orang dari Jakarta pun suka singgah untuk sekadar berwisata sehari di Cibubur.
Nindeng juga suka ngangon kebo (menggembala kerbau) di kawasan rawa dan setu yang sekarang dikenal sebagai Bumi Perkemahan Cibubur. Jumlah kerbau yang digembalakan orang- orang di situ bisa sampai 300 ekor.
Saat itu, setu masih lebar dan besar. Masyarakat menyebutnya sebagai Rawa Jemblong atau Rawa Putat karena tepian rawa banyak ditumbuhi pohon putat. Jalanan di sekitar daerah itu masih tanah merah atau tanah yang dilapisi batu brojolan—batu yang ditebarkan tak beraturan.
”Kalau mencari angkutan umum, kami harus jalan kaki beberapa kilometer sampai dekat Pasar Lama di Jalan Raya Bogor. Itu pun busnya mirip truk untuk mengangkut kambing,” papar Nindeng.
Berubah
Cibubur mulai berubah setelah dibangun jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) tahun 1973-1978. Hampir bersamaan dengan selesainya tol, dibangun kawasan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur. Lahan masyarakat pun dibeli pengembang, termasuk sawah Nindeng seluas 5.000 meter persegi.
Sejak itu, Cibubur sangat terkenal sebagai arena berkemah anggota Pramuka. Lewat program Jambore Nasional, para siswa sekolah dari seluruh Tanah Air berbondong-bondong mendirikan tenda, menginap, sambil berlatih disiplin kepramukaan. Saat pulang ke daerah, mereka mengenang Cibubur yang asri.
Perubahan radikal terjadi pada tahun 1990-an, terutama ketika muncul pembicaraan Ibu Kota akan dipindahkan ke Jonggol, daerah di sebelah tenggara Cibubur. Isu ini diikuti pembangunan jalan tembus (Trans-Yogie) yang menghubungkan Cibubur, Cileungsi, Jonggol, sampai Cianjur.
Warga Kampung Pondok Rangon lainnya, Bonen (36), bercerita, bersamaan dengan ramainya jalan tembus itu, secara perlahan orang-orang Jakarta berduit dari Jakarta berbondong-bondong memborong lahan di Cibubur dan sekitarnya.
”Tanah asli penduduk Cibubur banyak dijual. Sebagian besar lahan di sini punya orang-orang Jakarta,” kata Bonen.
Tahun 2000-an, Cibubur makin menggeliat cepat. Kiri-kanan jalan Trans-Yogie ditancapi beton-beton untuk perumahan, mal, ruko, rumah makan, rumah sakit, dan berbagai bangunan komersial lain. Kawasan itu pun sudah semakin sesak.
Apa mau dikata, Cibubur tempo dulu yang asri, sejuk, dan tempat istirahat yang nyaman kini tinggal kenangan.
Yulia Sapthiani, Ilham Khoiri & Lusiana Indriasari
Apa yang diingat banyak orang saat ditanya seperti apa Cibubur tempo dulu? Jawabannya hampir serupa: banyak sawah, empang, pepohonan, berudara sejuk, sekaligus sepi dan menyeramkan.
Sampai awal tahun 1990-an saja masih ada sawah di kawasan Jalan Raya Alternatif Cibubur yang sekarang didominasi perumahan dan pertokoan. ”Dulu saya masih bisa lihat kerbau di sawah-sawah itu,” kata Tusiran mengenang lingkungan di sekitar Warung Pak Dul pada masa sekitar 15 tahun lalu.
Warung Pak Dul di Kampung Kalimanggis, Kelurahan Jati Karya, Bekasi. Kalau bertanya pada Tusiran tentang nama jalan tempat Warung Pak Dul berada, dia akan menjawab Jalan Trans-Yogie, sama seperti kalau kita bertanya kepada orang-orang yang sudah sangat lama tinggal di Cibubur.Orang lama atau yang sepanjang hidupnya tinggal di Cibubur bahkan tak hanya menyebut kata ”Cibubur” untuk kawasan yang berada di sepanjang Jalan Raya Alternatif Cibubur. Sebutan orang untuk wilayah ini lain-lain, seperti Cileungsi-Cibubur atau Cibubur Baru.
Bagi mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, Cibubur adalah daerah yang dalam peta disebut sebagai Kelurahan Cibubur dengan kode pos 13720. Dari tol Jagorawi arah Jakarta, Kelurahan Cibubur berada di sebelah kanan jalan tol. Sementara Cibubur Baru berada di sebelah kiri jalan tol.
Karena belum banyak perumahan seperti sekarang, kondisi lalu lintas di Jalan Raya Alternatif Cibubur masih sepi. Kendaraan umum pun hanya dua jurusan saja.
”Dulu yang banyak di sini anjing liar. Anjing-anjing itu sampai memangsa kambing saya. Waktu saya cari, bekasnya ada di tengah sawah. Suasana di sini cukup seram, apalagi dekat sini ada kuburan,” kata Tusiran.
Sepi hiburan
Andong Begawan, yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak selama 20-an tahun, mengatakan, daerah tempat tinggalnya rawan maling. Padahal, lokasinya berdekatan dengan kompleks perumahan dan lapangan latihan tembak. Dari sinilah jalan tersebut kemudian diberi nama Jalan Lapangan Tembak.
Sepinya Cibubur dulu membuat tidak ada tempat hiburan di situ. Satu-satunya sarana hiburan yang menjadi andalan, menurut pedagang buah di sekitar pasar Cibubur Syarif (37), adalah layar tancap saat ada yang menggelar hajatan. Kalau mau ke bioskop, pilihannya adalah ke Cisalak atau Cijantung.
”Saya ingat, dulu nonton film Superman di Bioskop Peralon di Cijantung. Dikasih nama Peralon karena memang bekas pabrik pipa peralon,” kata Andong.
Meski seram, Cibubur tempo dulu adalah lingkungan yang nyaman untuk ditempati. Ini karena masih banyak pepohonan sehingga membuat udara menjadi sejuk. Maklum, sebagian lahan di sana masih dipenuhi kebun karet. ”Udara dingin bisa saya rasakan setiap kali bangun tidur. Sekitar tahun 1980-an hingga awal 1990-an, air tanah di Cibubur masih dingin,” kata Rossy Nahissa, penghuni Jalan Lapangan Tembak.
Nindeng (60), warga Kampung Pondok Rangon, yang masuk wilayah Depok, masih ingat betul bagaimana Cibubur tahun 1960-an. Cibubur saat itu sangat hijau royo-royo. Udaranya sejuk dan dingin. Orang dari Jakarta pun suka singgah untuk sekadar berwisata sehari di Cibubur.
Nindeng juga suka ngangon kebo (menggembala kerbau) di kawasan rawa dan setu yang sekarang dikenal sebagai Bumi Perkemahan Cibubur. Jumlah kerbau yang digembalakan orang- orang di situ bisa sampai 300 ekor.
Saat itu, setu masih lebar dan besar. Masyarakat menyebutnya sebagai Rawa Jemblong atau Rawa Putat karena tepian rawa banyak ditumbuhi pohon putat. Jalanan di sekitar daerah itu masih tanah merah atau tanah yang dilapisi batu brojolan—batu yang ditebarkan tak beraturan.
”Kalau mencari angkutan umum, kami harus jalan kaki beberapa kilometer sampai dekat Pasar Lama di Jalan Raya Bogor. Itu pun busnya mirip truk untuk mengangkut kambing,” papar Nindeng.
Berubah
Cibubur mulai berubah setelah dibangun jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) tahun 1973-1978. Hampir bersamaan dengan selesainya tol, dibangun kawasan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur. Lahan masyarakat pun dibeli pengembang, termasuk sawah Nindeng seluas 5.000 meter persegi.
Sejak itu, Cibubur sangat terkenal sebagai arena berkemah anggota Pramuka. Lewat program Jambore Nasional, para siswa sekolah dari seluruh Tanah Air berbondong-bondong mendirikan tenda, menginap, sambil berlatih disiplin kepramukaan. Saat pulang ke daerah, mereka mengenang Cibubur yang asri.
Perubahan radikal terjadi pada tahun 1990-an, terutama ketika muncul pembicaraan Ibu Kota akan dipindahkan ke Jonggol, daerah di sebelah tenggara Cibubur. Isu ini diikuti pembangunan jalan tembus (Trans-Yogie) yang menghubungkan Cibubur, Cileungsi, Jonggol, sampai Cianjur.
Warga Kampung Pondok Rangon lainnya, Bonen (36), bercerita, bersamaan dengan ramainya jalan tembus itu, secara perlahan orang-orang Jakarta berduit dari Jakarta berbondong-bondong memborong lahan di Cibubur dan sekitarnya.
”Tanah asli penduduk Cibubur banyak dijual. Sebagian besar lahan di sini punya orang-orang Jakarta,” kata Bonen.
Tahun 2000-an, Cibubur makin menggeliat cepat. Kiri-kanan jalan Trans-Yogie ditancapi beton-beton untuk perumahan, mal, ruko, rumah makan, rumah sakit, dan berbagai bangunan komersial lain. Kawasan itu pun sudah semakin sesak.
Apa mau dikata, Cibubur tempo dulu yang asri, sejuk, dan tempat istirahat yang nyaman kini tinggal kenangan.
Thursday, December 10, 2009
SBY: New capital city for Indonesia needs consideration
This article is talking about new plan on moving capital of Indonesia from Jakarta to Jonggol, which is not that far from Cibubur. This is interesting, I can imagine if this idea is implemented, Cibubur will be much more developed and will become supporting suburbans/ city for Jakarta itself and new Capital Jonggol. Hmm.... can't wait
=========
SBY: New capital city needs consideration
Erwida Maulia , The Jakarta Post , Jakarta
Fri, 12/04/2009 11:38 AM
National
The President has again raised the issue of moving the country's capital from Jakarta to somewhere else nearby to avoid problems of overcrowding and congestion.
President Susilo Bambang Yudhoyono said Jakarta was too crowded, and that any plans to develop a new location to be the country's administrative capital were acceptable.
"About 15 years ago there was mention of moving the administration from Jakarta to Jonggol in West Java," Yudhoyono said Wednesday evening to heads of the country's 33 provinces ahead of the national working meeting of the Indonesian Provincial Administrations Association (APPSI) in Central Kalimantan.
"However, following the Asian financial crisis, the idea of moving the center of administration from Jakarta to Jonggol has never been aired again," he said.
"Going forward, the idea of moving the center of the administration must again be considered and developed, considering Jakarta has become exceedingly crowded."
Yudhoyono said, to facilitate the move, the site for the new capital should not be too far from Jakarta.
"Find alternatives not too far from Jakarta, such as Sentul and Jonggol in West Java," he said, referring to areas situated about 36 kilometers and 50 kilometers south of Jakarta, respectively.
In the 1990s, former president Soeharto floated the idea of moving the capital with his son Hutomo "Tommy" Mandala Putra and his daughter Sri Hadiyanti "Tutut" Rukmana, preparing Jonggol to be the new capital.
However, the plan failed to materialize when the Indonesian strong man was forced to step down in 1998.
Years after Soeharto's fall, Jakarta faces more problems, ranging from heavy traffic jams, annual floods, frequent fires and a high crime rate.
Traffic congestion has worsened compared to 10 years ago because projects aimed at easing traffic flow have stagnated.
Large parts of the city still face the threat of annual flooding because of the sluggish pace of construction of the East Flood Canal (BKT), the largest flood mitigation project in the city.
In recent years as the country faces more and more natural disasters, Jakarta has turned out to also be prone to earthquakes, with major quakes hitting the capital in the last year.
Many have suggested that Kalimantan is the safest place for the country's capital as the island is the most geographically and geologically stable.
Responding to the idea that the administrative capital be relocated to Palangkaraya, Yuhdoyono said it would not be practical given Palangkaraya's considerable distance from Jakarta.
He added, however, that since Kalimantan was relatively safe from natural disasters such as earthquakes and tsunamis compared to other parts of the country, it was sensible that Palangkaraya be developed further.
The APPSI meeting is scheduled to take place from Dec. 2 to 4. Yudhoyono opened proceedings Thursday morning, after which he flew back to Jakarta.
In his opening speech before the country's governors, provincial secretaries and other regional executives, the President called on them to support the central government's first 100-day programs, which consist of a total of 65 programs including 15 priority programs.
He said the programs could only succeed with the regional participation.
"The programs are related to the economy and law and security sectors. They require cooperation with each sector and with the regions," Yudhoyono said.
He also reminded the regional heads of the importance of ensuring good economic growth, job creation, controlled inflation and poverty reduction in their respective areas.
=========
SBY: New capital city needs consideration
Erwida Maulia , The Jakarta Post , Jakarta
Fri, 12/04/2009 11:38 AM
National
The President has again raised the issue of moving the country's capital from Jakarta to somewhere else nearby to avoid problems of overcrowding and congestion.
President Susilo Bambang Yudhoyono said Jakarta was too crowded, and that any plans to develop a new location to be the country's administrative capital were acceptable.
"About 15 years ago there was mention of moving the administration from Jakarta to Jonggol in West Java," Yudhoyono said Wednesday evening to heads of the country's 33 provinces ahead of the national working meeting of the Indonesian Provincial Administrations Association (APPSI) in Central Kalimantan.
"However, following the Asian financial crisis, the idea of moving the center of administration from Jakarta to Jonggol has never been aired again," he said.
"Going forward, the idea of moving the center of the administration must again be considered and developed, considering Jakarta has become exceedingly crowded."
Yudhoyono said, to facilitate the move, the site for the new capital should not be too far from Jakarta.
"Find alternatives not too far from Jakarta, such as Sentul and Jonggol in West Java," he said, referring to areas situated about 36 kilometers and 50 kilometers south of Jakarta, respectively.
In the 1990s, former president Soeharto floated the idea of moving the capital with his son Hutomo "Tommy" Mandala Putra and his daughter Sri Hadiyanti "Tutut" Rukmana, preparing Jonggol to be the new capital.
However, the plan failed to materialize when the Indonesian strong man was forced to step down in 1998.
Years after Soeharto's fall, Jakarta faces more problems, ranging from heavy traffic jams, annual floods, frequent fires and a high crime rate.
Traffic congestion has worsened compared to 10 years ago because projects aimed at easing traffic flow have stagnated.
Large parts of the city still face the threat of annual flooding because of the sluggish pace of construction of the East Flood Canal (BKT), the largest flood mitigation project in the city.
In recent years as the country faces more and more natural disasters, Jakarta has turned out to also be prone to earthquakes, with major quakes hitting the capital in the last year.
Many have suggested that Kalimantan is the safest place for the country's capital as the island is the most geographically and geologically stable.
Responding to the idea that the administrative capital be relocated to Palangkaraya, Yuhdoyono said it would not be practical given Palangkaraya's considerable distance from Jakarta.
He added, however, that since Kalimantan was relatively safe from natural disasters such as earthquakes and tsunamis compared to other parts of the country, it was sensible that Palangkaraya be developed further.
The APPSI meeting is scheduled to take place from Dec. 2 to 4. Yudhoyono opened proceedings Thursday morning, after which he flew back to Jakarta.
In his opening speech before the country's governors, provincial secretaries and other regional executives, the President called on them to support the central government's first 100-day programs, which consist of a total of 65 programs including 15 priority programs.
He said the programs could only succeed with the regional participation.
"The programs are related to the economy and law and security sectors. They require cooperation with each sector and with the regions," Yudhoyono said.
He also reminded the regional heads of the importance of ensuring good economic growth, job creation, controlled inflation and poverty reduction in their respective areas.
Tuesday, December 8, 2009
Prospek Investasi Properti di Pinggiran Jakarta Tetap Cerah
properti.kompas.com
Jumat, 4/12/2009 | 17:00 WIB
KOMPAS.com - Prospek investasi properti di pinggiran Jakarta terbilang cerah. Saban tahun, harga tanah di Cibubur, Serpong, dan Depok terus meningkat. Kenaikan harga tanah terbesar terjadi di Depok. Sementara, Serpong berpotensi mengalami kejenuhan. Mari mencermati prospek investasi properti di kawasan Cibubur, Serpong, dan Depok.
Wajah Yuliana Wiyanto terlihat sumringah. Wanita ini baru saja mendulang keuntungan besar dari hasil menjual rumah miliknya di kluster Pesona Madrid Kota Wisata, Cibubur, Depok.
Dia melepas rumah itu dengan harga Rp 400 juta. Padahal, sekitar sembilan tahun yang lalu dia hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 250 juta untuk memperoleh rumah tipe 144/120 meter persegi (m²) itu.
Lain lagi dengan Rio Affianto. Karyawan swasta ini berniat melego rumah tipe 90/140 di Kota Wisata seharga Rp 275 juta. “Sekarang saya mau jual karena istri ingin punya rumah dekat orangtua di Pondok Kelapa,” bebernya.
Meski belum laku, rumah milik Rio sudah ditawar cukup tinggi. Ia mengklaim sudah ada yang berani menawar seharga Rp 250 juta. Padahal, Rio membeli rumah pada 2007 silam dengan harga Rp 195 juta.
Keuntungan jual beli properti ini tentu menggembirakan para investor. Masalahnya, tidak sedikit orang yang bingung bagaimana memilih dan menentukan properti yang menguntungkan di masa depan.
Kepala Riset Jones Lang Lasalle Anton Sitorus menyarankan investor mencari kawasan yang sedang berkembang untuk berinvestasi. Alasannya, harga tanah dan properti di daerah yang berkembang cenderung meningkat lebih cepat.
Nah, bagaimana prospek kawasan di pinggiran Jakarta saat ini? Silakan ikuti ulasan berikut:
CIBUBUR
Lokasi ini termasuk salah satu daerah yang menjadi favorit untuk tempat tinggal dan berinvestasi. Banyak orang tertarik membeli rumah yang terletak di pinggiran Ibukota ini. Pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia bilang, akses yang bisa terjangkau dari Jakarta Selatan, Bekasi, dan Bogor menjadi salah satu keunggulan kawasan Cibubur.
Tak heran apabila harga tanah dan properti di Cibubur memang cenderung meningkat setiap tahun. Salah satu contohnya harga tanah dan bangunan di perumahan Kota Wisata.
Manajer Promosi Kota Wisata Hogeny menerangkan, pada 2007 lalu harga tanah berkisar Rp 900.000 hingga Rp 3,5 juta per m². Sekadar catatan, perbedaan harga tadi berdasarkan pada lokasi dan kluster.
Selang setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,1 juta hingga Rp 4 juta per m². Tahun ini, Duta Pertiwi mencatat, harga tanah sudah menjadi Rp 1,3 juta−Rp 4 juta. Berarti, kenaikan harga tanah sebesar 18% dari tahun sebelumnya. “Segala fasilitas yang dibutuhkan orang perkotaan sudah tersedia di Kota Wisata. Itu yang menjadi salah satu daya tariknya,” kata Hogeny, beraroma promosi.
Fasilitas yang tersedia di Kota Wisata terbilang komplet, mulai dari sekolah, rumah ibadah, sarana olahraga, hingga taman rekreasi seperti Kampoeng China dan Kampoeng Indonesia. Hogeny mengklaim, kedua tempat rekreasi itu telah berubah menjadi objek wisata. Total pengunjung mencapai 50.000 orang pada hari libur.
Perumahan yang mengusung tema City of Millions Enchantment alias Kota Sejuta Pesona ini telah menggarap 350 hektare atau separuh dari total lahan seluas 750 hektare. Hingga kini, Kota Wisata telah menelurkan 29 kluster.
Kluster teranyar, yakni Hacienda dan Coatesville, sudah dipasarkan sejak Oktober 2009 lalu. Kluster ini terdiri dari 200 unit rumah hunian. Harga satu unit rumah tipe 162 antara Rp 947 juta hingga Rp 1,8 miliar.
Kenaikan harga juga terjadi di perumahan Citragran, yang hanya sepelemparan batu dari Kota Wisata. Kepala Divisi Penjualan Citragran Lia Ariyani menghitung, kenaikan harga tanah di perumahannya antara 10 persen hingga 20 persen per tahun.
Ilustrasinya begini. Pada tiga tahun silam, Citragran menjual tanah sebesar Rp 1,1 juta per m². Setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,4 juta dan tahun ini senilai Rp 1,6 juta pe m². Menurut Lia, kenaikan harga tanah dan properti demi keuntungan para investor.
Di masa mendatang, Ali memperkirakan, harga tanah di Cibubur bakal melonjak dengan adanya rencana pembangunan Jakarta Outer Ring Road (JORR) bagian selatan melalui jalan tol T.B. Simatupang dan Pondok Pinang.
Dia memprediksi, kenaikan bisa mencapai 20 persen setahun. Cuma, Ali mengingatkan, masalah kemacetan lalulintas di kawasan tersebut bisa menjadi problem bila tidak segera diselesaikan.
SERPONG
Lonjakan harga juga terjadi di Serpong, Tangerang. Sejak munculnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 1989 silam, harga tanah dan properti di sini amat meroket. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD Idham Muchlis mengatakan, harga tanah dan properti BSD naik antara 15 persen hingga 20 persen per tahun.
Dalam catatan Idham, pada 2004 silam harga tanah di BSD sekitar Rp 750.000 per m² dan bangunan sekitar Rp 2 juta per m². Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per m² dan harga bangunan sudah mencapai Rp 3,2 juta per m². Menurut Idham, lonjakan harga yang signifikan terjadi pada periode tahun 1995−1996 dan tahun 2004−2006. “Bisa dibilang waktu itu booming properti, sehingga harga naik tinggi,” ujarnya.
Selain BSD, harga tanah dan properti di Perumahan Alam Sutera juga meroket. Sejak berdiri 1994 silam, harga tanah di perumahan tetangga BSD ini naik 10 persen setiap tahun. “Meski naik, tapi harga tanah di Alam Sutera masih lebih murah dibanding daerah sekeliling,” ujar Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan.
Hendra mengungkapkan, saat ini harga tanah dipatok Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Bandingkan dengan dua tahun lalu, kala harga tanah masih sekitar Rp 1,3 juta per m², dan setahun kemudian meningkat menjadi Rp 2,25 juta per m². “Itu harga tanah rumah hunian. Kalau yang komersial kenaikannya lebih besar,” ujar Hendra.
Harga tanah komersial sekarang Rp 4,4 juta per m². Padahal, pada 2007 lalu, harganya masih Rp 1,7 juta per m². Itu berarti ada kenaikan sebesar Rp 2,7 juta per m² dalam selang waktu tiga tahun. Salah satu penyebab harga tanah di proyek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini meroket lantaran adanya akses jalan tol sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Merak. Jalan tol ini juga memberikan akses ke Bandara Soekarno-Hatta.
Salah seorang investor yang sudah merasakan nikmatnya berinvestasi di Serpong adalah Yolanda Hanneke. Pada 2000, ia menukarkan duit sebanyak Rp 190 juta dengan sebuah rumah tipe 160/140 di Alam Sutera. Ketika itu, ia mengeluarkan kocek tambahan Rp 50 juta untuk melakukan beberapa perbaikan. “Beberapa bulan lalu saya jual rumah itu seharga Rp 600 juta,” ujar Yolanda.
Pengamat properti Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, kawasan Serpong pertama kali menjadi primadona sewaktu banjir besar melanda perumahan-perumahan di Jakarta pada beberapa tahun lalu. Selain bebas banjir, menurut Ali, tingginya permintaan lantaran lokasi sekitar Serpong sudah mulai jenuh.
Cuma, Ali menilai, kenaikan harga properti di Serpong mulai melamban. Dalam hitungannya, kenaikan harga sepanjang tahun ini hanya sebesar 12%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, Ali mencatat kenaikan harga yang lebih besar, yakni dalam rentang 15% hingga 25%.
Ali beralasan, penurunan ini terjadi karena kawasan Serpong sudah mulai padat. Alhasil, dia melihat banyak orang melirik kawasan di sekitarnya, seperti Sawangan, Bintaro, Pondok Cabe. “Apalagi ada potensi JORR 2 lewat situ,” jelas Ali.
DEPOK
Kawasan di sebelah selatan Ibukota ini bisa menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi properti. Soalnya, tersedia banyak infrastruktur untuk mengakses daerah ini.
Iklim di daerah pinggiran Jakarta ini juga turut mendukung. Bila Jakarta panas lantaran padat penduduk, beberapa daerah Depok terbilang masih sejuk karena berbatasan dengan kaki Gunung Salak. Kini, daerah penyebaran perumahan kawasan Depok mulai dari kawasan Cimanggis, Sukmajaya, Sawangan, sampai Cinere.
Salah satu pengembang di kawasan Depok adalah Grup Sinarmas. Grup ini tengah mengembangkan perumahan Telaga Golf Sawangan.Proyek perumahan seluas 100 hektare ini sudah berjalan sejak Februari 2000 lalu. “Saat ini total tanah yang terbangun sebesar 60% dari lahan keseluruhan,” ungkap Supervisor Pemasaran Telaga Golf Sawangan Agnes Kusumawardani.
Soal potensi di masa mendatang, Agnes yakin bakal cerah. Argumen dia, pemerintah sudah merencanakan pembangunan jalan tol Depok-Antasari (Desari). Jarak pintu tol dengan perumahan ini terbilang dekat. “Kurang lebih sekitar 3 kilometer,” kata Agnes.
Sejak berdiri, harga tanah dan properti di perumahan ini naik sekitar 10% per tahun. Agnes mengungkapkan, kenaikan tertinggi terjadi pada 2007 dan 2008 lalu akibat lonjakan harga material dan bahan bakar minyak (BBM).
Sebagai gambaran, harga tanah pada 2007 silam sebesar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per m². Setahun berselang, harganya naik sedikit jadi Rp 900.000. Terakhir, harganya parkir di kisaran Rp 1,29 juta per m².
Kenaikan harga tanah juga mengerek harga hunian. Sebagai contoh, harga rumah tipe 144/160 di kluster Sevilla naik dari Rp 450 juta pada 2007 lalu tahun ini menjadi Rp 600 juta. Sekarang, pengembang sedang asyik ketak-ketok proyek kluster teranyar, yakni North Espanola. Kluster ini menawarkan tiga tipe, antara lain Ibiza atau tipe 144/160.
Perumahan lain di Depok adalah Permata Cimanggis. Harga tanah dan hunian di perumahan besutan Grup Permata ini melonjak sebesar 30% hingga 40% per tahun. Saat ini, harga tanah sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,7 juta per m². Lalu, “Di masa mendatang, tentu punya potensi baik karena ada kabar pembangunan jalan tol Cinere−Jagorawi dan relokasi terminal Depok ke daerah tepat di belakang proyek perumahan,” ujar Supervisor Pemasaran Permata Cimanggis Taufan Hery Kuswanto.
Proyek teranyar dari Permata Cimanggis, yakni kluster Mutiara, sudah berjalan sejak awal Oktober kemarin. Tipe yang ditawarkan di kluster Mutiara ini ada dua, yaitu tipe 45/84 dan tipe 45/90,dengan banderol harga berkisar antara Rp 250 juta hingga Rp 350 juta.
Anton Sitorus memprediksi, potensi pertumbuhan properti di Depok masih bagus. “Karena Depok termasuk salah satu kawasan yang mengakomodasi wilayah Jakarta. Apalagi ditunjang adanya kereta api,” ujar Anton.
Selain itu, prospek investasi properti di Depok sama baiknya dengan daerah pinggiran Jakarta lain seperti Serpong dan Cibubur. “Kenaikan harganya saya pikir bisa sekitar 10 persen per tahun,” jelas Anton. (Dessy Rosalina/Edy Can/KONTAN Weekend)
Jumat, 4/12/2009 | 17:00 WIB
KOMPAS.com - Prospek investasi properti di pinggiran Jakarta terbilang cerah. Saban tahun, harga tanah di Cibubur, Serpong, dan Depok terus meningkat. Kenaikan harga tanah terbesar terjadi di Depok. Sementara, Serpong berpotensi mengalami kejenuhan. Mari mencermati prospek investasi properti di kawasan Cibubur, Serpong, dan Depok.
Wajah Yuliana Wiyanto terlihat sumringah. Wanita ini baru saja mendulang keuntungan besar dari hasil menjual rumah miliknya di kluster Pesona Madrid Kota Wisata, Cibubur, Depok.
Dia melepas rumah itu dengan harga Rp 400 juta. Padahal, sekitar sembilan tahun yang lalu dia hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 250 juta untuk memperoleh rumah tipe 144/120 meter persegi (m²) itu.
Lain lagi dengan Rio Affianto. Karyawan swasta ini berniat melego rumah tipe 90/140 di Kota Wisata seharga Rp 275 juta. “Sekarang saya mau jual karena istri ingin punya rumah dekat orangtua di Pondok Kelapa,” bebernya.
Meski belum laku, rumah milik Rio sudah ditawar cukup tinggi. Ia mengklaim sudah ada yang berani menawar seharga Rp 250 juta. Padahal, Rio membeli rumah pada 2007 silam dengan harga Rp 195 juta.
Keuntungan jual beli properti ini tentu menggembirakan para investor. Masalahnya, tidak sedikit orang yang bingung bagaimana memilih dan menentukan properti yang menguntungkan di masa depan.
Kepala Riset Jones Lang Lasalle Anton Sitorus menyarankan investor mencari kawasan yang sedang berkembang untuk berinvestasi. Alasannya, harga tanah dan properti di daerah yang berkembang cenderung meningkat lebih cepat.
Nah, bagaimana prospek kawasan di pinggiran Jakarta saat ini? Silakan ikuti ulasan berikut:
CIBUBUR
Lokasi ini termasuk salah satu daerah yang menjadi favorit untuk tempat tinggal dan berinvestasi. Banyak orang tertarik membeli rumah yang terletak di pinggiran Ibukota ini. Pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia bilang, akses yang bisa terjangkau dari Jakarta Selatan, Bekasi, dan Bogor menjadi salah satu keunggulan kawasan Cibubur.
Tak heran apabila harga tanah dan properti di Cibubur memang cenderung meningkat setiap tahun. Salah satu contohnya harga tanah dan bangunan di perumahan Kota Wisata.
Manajer Promosi Kota Wisata Hogeny menerangkan, pada 2007 lalu harga tanah berkisar Rp 900.000 hingga Rp 3,5 juta per m². Sekadar catatan, perbedaan harga tadi berdasarkan pada lokasi dan kluster.
Selang setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,1 juta hingga Rp 4 juta per m². Tahun ini, Duta Pertiwi mencatat, harga tanah sudah menjadi Rp 1,3 juta−Rp 4 juta. Berarti, kenaikan harga tanah sebesar 18% dari tahun sebelumnya. “Segala fasilitas yang dibutuhkan orang perkotaan sudah tersedia di Kota Wisata. Itu yang menjadi salah satu daya tariknya,” kata Hogeny, beraroma promosi.
Fasilitas yang tersedia di Kota Wisata terbilang komplet, mulai dari sekolah, rumah ibadah, sarana olahraga, hingga taman rekreasi seperti Kampoeng China dan Kampoeng Indonesia. Hogeny mengklaim, kedua tempat rekreasi itu telah berubah menjadi objek wisata. Total pengunjung mencapai 50.000 orang pada hari libur.
Perumahan yang mengusung tema City of Millions Enchantment alias Kota Sejuta Pesona ini telah menggarap 350 hektare atau separuh dari total lahan seluas 750 hektare. Hingga kini, Kota Wisata telah menelurkan 29 kluster.
Kluster teranyar, yakni Hacienda dan Coatesville, sudah dipasarkan sejak Oktober 2009 lalu. Kluster ini terdiri dari 200 unit rumah hunian. Harga satu unit rumah tipe 162 antara Rp 947 juta hingga Rp 1,8 miliar.
Kenaikan harga juga terjadi di perumahan Citragran, yang hanya sepelemparan batu dari Kota Wisata. Kepala Divisi Penjualan Citragran Lia Ariyani menghitung, kenaikan harga tanah di perumahannya antara 10 persen hingga 20 persen per tahun.
Ilustrasinya begini. Pada tiga tahun silam, Citragran menjual tanah sebesar Rp 1,1 juta per m². Setahun kemudian, harga tanah naik jadi Rp 1,4 juta dan tahun ini senilai Rp 1,6 juta pe m². Menurut Lia, kenaikan harga tanah dan properti demi keuntungan para investor.
Di masa mendatang, Ali memperkirakan, harga tanah di Cibubur bakal melonjak dengan adanya rencana pembangunan Jakarta Outer Ring Road (JORR) bagian selatan melalui jalan tol T.B. Simatupang dan Pondok Pinang.
Dia memprediksi, kenaikan bisa mencapai 20 persen setahun. Cuma, Ali mengingatkan, masalah kemacetan lalulintas di kawasan tersebut bisa menjadi problem bila tidak segera diselesaikan.
SERPONG
Lonjakan harga juga terjadi di Serpong, Tangerang. Sejak munculnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 1989 silam, harga tanah dan properti di sini amat meroket. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD Idham Muchlis mengatakan, harga tanah dan properti BSD naik antara 15 persen hingga 20 persen per tahun.
Dalam catatan Idham, pada 2004 silam harga tanah di BSD sekitar Rp 750.000 per m² dan bangunan sekitar Rp 2 juta per m². Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per m² dan harga bangunan sudah mencapai Rp 3,2 juta per m². Menurut Idham, lonjakan harga yang signifikan terjadi pada periode tahun 1995−1996 dan tahun 2004−2006. “Bisa dibilang waktu itu booming properti, sehingga harga naik tinggi,” ujarnya.
Selain BSD, harga tanah dan properti di Perumahan Alam Sutera juga meroket. Sejak berdiri 1994 silam, harga tanah di perumahan tetangga BSD ini naik 10 persen setiap tahun. “Meski naik, tapi harga tanah di Alam Sutera masih lebih murah dibanding daerah sekeliling,” ujar Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan.
Hendra mengungkapkan, saat ini harga tanah dipatok Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Bandingkan dengan dua tahun lalu, kala harga tanah masih sekitar Rp 1,3 juta per m², dan setahun kemudian meningkat menjadi Rp 2,25 juta per m². “Itu harga tanah rumah hunian. Kalau yang komersial kenaikannya lebih besar,” ujar Hendra.
Harga tanah komersial sekarang Rp 4,4 juta per m². Padahal, pada 2007 lalu, harganya masih Rp 1,7 juta per m². Itu berarti ada kenaikan sebesar Rp 2,7 juta per m² dalam selang waktu tiga tahun. Salah satu penyebab harga tanah di proyek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini meroket lantaran adanya akses jalan tol sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Merak. Jalan tol ini juga memberikan akses ke Bandara Soekarno-Hatta.
Salah seorang investor yang sudah merasakan nikmatnya berinvestasi di Serpong adalah Yolanda Hanneke. Pada 2000, ia menukarkan duit sebanyak Rp 190 juta dengan sebuah rumah tipe 160/140 di Alam Sutera. Ketika itu, ia mengeluarkan kocek tambahan Rp 50 juta untuk melakukan beberapa perbaikan. “Beberapa bulan lalu saya jual rumah itu seharga Rp 600 juta,” ujar Yolanda.
Pengamat properti Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, kawasan Serpong pertama kali menjadi primadona sewaktu banjir besar melanda perumahan-perumahan di Jakarta pada beberapa tahun lalu. Selain bebas banjir, menurut Ali, tingginya permintaan lantaran lokasi sekitar Serpong sudah mulai jenuh.
Cuma, Ali menilai, kenaikan harga properti di Serpong mulai melamban. Dalam hitungannya, kenaikan harga sepanjang tahun ini hanya sebesar 12%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, Ali mencatat kenaikan harga yang lebih besar, yakni dalam rentang 15% hingga 25%.
Ali beralasan, penurunan ini terjadi karena kawasan Serpong sudah mulai padat. Alhasil, dia melihat banyak orang melirik kawasan di sekitarnya, seperti Sawangan, Bintaro, Pondok Cabe. “Apalagi ada potensi JORR 2 lewat situ,” jelas Ali.
DEPOK
Kawasan di sebelah selatan Ibukota ini bisa menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi properti. Soalnya, tersedia banyak infrastruktur untuk mengakses daerah ini.
Iklim di daerah pinggiran Jakarta ini juga turut mendukung. Bila Jakarta panas lantaran padat penduduk, beberapa daerah Depok terbilang masih sejuk karena berbatasan dengan kaki Gunung Salak. Kini, daerah penyebaran perumahan kawasan Depok mulai dari kawasan Cimanggis, Sukmajaya, Sawangan, sampai Cinere.
Salah satu pengembang di kawasan Depok adalah Grup Sinarmas. Grup ini tengah mengembangkan perumahan Telaga Golf Sawangan.Proyek perumahan seluas 100 hektare ini sudah berjalan sejak Februari 2000 lalu. “Saat ini total tanah yang terbangun sebesar 60% dari lahan keseluruhan,” ungkap Supervisor Pemasaran Telaga Golf Sawangan Agnes Kusumawardani.
Soal potensi di masa mendatang, Agnes yakin bakal cerah. Argumen dia, pemerintah sudah merencanakan pembangunan jalan tol Depok-Antasari (Desari). Jarak pintu tol dengan perumahan ini terbilang dekat. “Kurang lebih sekitar 3 kilometer,” kata Agnes.
Sejak berdiri, harga tanah dan properti di perumahan ini naik sekitar 10% per tahun. Agnes mengungkapkan, kenaikan tertinggi terjadi pada 2007 dan 2008 lalu akibat lonjakan harga material dan bahan bakar minyak (BBM).
Sebagai gambaran, harga tanah pada 2007 silam sebesar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per m². Setahun berselang, harganya naik sedikit jadi Rp 900.000. Terakhir, harganya parkir di kisaran Rp 1,29 juta per m².
Kenaikan harga tanah juga mengerek harga hunian. Sebagai contoh, harga rumah tipe 144/160 di kluster Sevilla naik dari Rp 450 juta pada 2007 lalu tahun ini menjadi Rp 600 juta. Sekarang, pengembang sedang asyik ketak-ketok proyek kluster teranyar, yakni North Espanola. Kluster ini menawarkan tiga tipe, antara lain Ibiza atau tipe 144/160.
Perumahan lain di Depok adalah Permata Cimanggis. Harga tanah dan hunian di perumahan besutan Grup Permata ini melonjak sebesar 30% hingga 40% per tahun. Saat ini, harga tanah sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,7 juta per m². Lalu, “Di masa mendatang, tentu punya potensi baik karena ada kabar pembangunan jalan tol Cinere−Jagorawi dan relokasi terminal Depok ke daerah tepat di belakang proyek perumahan,” ujar Supervisor Pemasaran Permata Cimanggis Taufan Hery Kuswanto.
Proyek teranyar dari Permata Cimanggis, yakni kluster Mutiara, sudah berjalan sejak awal Oktober kemarin. Tipe yang ditawarkan di kluster Mutiara ini ada dua, yaitu tipe 45/84 dan tipe 45/90,dengan banderol harga berkisar antara Rp 250 juta hingga Rp 350 juta.
Anton Sitorus memprediksi, potensi pertumbuhan properti di Depok masih bagus. “Karena Depok termasuk salah satu kawasan yang mengakomodasi wilayah Jakarta. Apalagi ditunjang adanya kereta api,” ujar Anton.
Selain itu, prospek investasi properti di Depok sama baiknya dengan daerah pinggiran Jakarta lain seperti Serpong dan Cibubur. “Kenaikan harganya saya pikir bisa sekitar 10 persen per tahun,” jelas Anton. (Dessy Rosalina/Edy Can/KONTAN Weekend)
Subscribe to:
Posts (Atom)
















